Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Gamelan Saron, Sanggar Sudamala, Desa Tangkas, Kec. Klungkung, Duta Kabupaten Klungkung. Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali – Jumat 5 Juli 2019, 14.00 wita.

Gamelan Saron, Gamelan Tua Memakai Laras Pelog Tujuh Nada

Bali kaya ragam jenis gamelan. Satu diantaranya  gamelan Saron. Gamelan Saron merupakan gamelan tua yang memaki laras pelog tujuh nda. Gameran Saron inilah yang dipentaskan, Jumat Siang (5/7) di kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar.

“Mungkin bagi sebagian orang hal ini (gamelan Saron-red) baru atau langka. Itu kerena gamelan ini hanya digunakan untuk kegiatan upacara di Klungkung saja,“ tutur pembina tabuh gamelan Saron, Komang Sukarya (50). Menurut Sukarya gamelan ini termasuk golongan tua. Sehingga nanti penyajiannya tidak terlalu menarik. “Tapi bagi kita sebagai mana orang Bali, bagaimana kita mampu memberikan support kepada provinsi, sebagaimana tujuan dari PKB (Pesta Kesenian Bali ke-41 – red) ini sendiri,ada pengembangan, penggantian, dan juga ada pelestarian,” lanjut pria tua asal Tangkas, Klungkung ini.

Penampilan Sanggar Sudamala, Desa Tangkas, Klungkung yang membawakan Gamelan Saron ini menampilkan garapan gending-gending Abuan,  Bagus Botoh, Gadung Melati, Gedang Renteng dan Ratna Mangelo Nada-nada khas musik tradisional mulai mengalun indah memenuhi kalangan Angsoka ini. Kekompakkan para penabuh menjadi kunci utama keberhasilan pementasan ini.

Menurut Sukarya, gamelan Saron ini sering dipakai dalam upacara  yadnya yang bersifat Yadnya besar di Klungkung. “Seperti karya Mamungkah, Maligia dan lainnya,” tutur Sukarya.

Menurut Sukarya, gambelan ini berbeda dari gambelan lain. Gamelan Saron tergolong gamelan tua yang memakai laras pelog 7 nada dan mempunyai struktur gending yang sangat sederhana, terdiri dari Kawitan dan Pengawak serta pola gending-gendingnya berbeda dari yang lain. Instrumen barungannya terdiri dari dua buah saron yang berbilah bamboo, dua buah gangsar besar dan dua buah gangsa kecil. “Nah untuk kesulitannya tersendiri, kalau gamelan lain kan menggunakan satu tangan untuk panggul tangan yang lain memegang besi gamelan. Tetapi kalau gamelan Saron ini kedua tangan ikut berpartisipasi. Jadi harus seimbang,” jelas Sukarya.

Aksi tim Sukarya ini, tak hanya penonton local yang menonton pementasan gamelan Saron. Beberapa penonton dari wisatawan asing juga ikut menikmati alunan tenang gamelan Saron (*).