Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

6. Bentuk dan Susunan Monumen (Shape and Structure of The Monument)

BENTUK DAN SUSUNAN MONUMEN

Bangunan monumen menyerupai bentuk Bajra (genta) yang tinggi menjulang. Dinding dibuat dengan sistem tulang beton cor dan dilapisi dengan batuan andesit (lahar).
Secara horisontal susunan bangunan monumen berbentuk bujur sangkar yang mengacu pada Konsep Tri Mandala, yaitu:
1. Nista Mandala (Jaba Sisi), diwujudkan dalam bentuk pelataran luar yang mengelilingi monumen yang dilengkapi dengan jalan setapak, pertamanan, tempat duduk, serta untuk kegiatan olahraga.
2. Madia Mandala (Jaba Tengah), yang berada dilapis kedua merupakan sebuah pelataran yang dikelilingi oleh pagar bangunan yang dilengkapi pintu gerbang (candi bentar) pada keempat sisi arah mata angin.
3. Utama Mandala (Jeroan), merupakan inti bangunan, terdapat gedung utama yang dikelilingi oleh telaga, jalan setapak dan bale bengong yang berada pada setiap sudut.
Secara vertikal monumen ini juga terbagi menjadi 3 bagian yang mengacu pada Konsep Tri Angga, yaitu:
1. Nistaning Utama Mandala (Nistaning Angga) adalah lantai gedung monumen yang terbawah. Pada bagian ini terdapat Ruang Informasi, Ruang Pameran, Ruang Perpustakaan, Ruang Rapat, Toko Cinderamata, dan Toilet. Ditengah lantai ini terdapat telaga yang dinamai Puser Tasik dengan 8 tiang agung, dan jalan tangga naik merupakan Tapak Dara.
2. Madianing Utama Mandala (Madianing Angga) adalah lantai tengah atau lantai dua yang dimanfaatkan untuk penempatan 33 Unit Diorama yaitu tempat dipajangkannya miniatur Perjuangan Rakyat Bali dari masa ke masa.
3. Utamaning Utama Mandala (Utamaning Angga) adalah lantai teratas yang berfungsi sebagai Ruang Peninjauan dan tempat merenung sambil menikmati suasana keindahan di sekeliling monumen.

 

SHAPE AND STRUCTURE OF THE MONUMENT

If we see from a far, the building of the monument resembles the shape of a bell (Bajra). The walls are made with a cast concrete bone system and coated with lava rock.

Horizontally, the shape of the monument is square, which refers to the Tri Mandala concept, namely:

  1. Nista Mandala (outer Jaba) is manifested in the form of the outer court surrounding the monument which is equipped with footpaths, landscaping, seating, and for sport activities.
  2. Madia Mandala (central Jaba) is in the second layer, a courtyard surrounded by a building fence which is equipped with a gate (candi bentar) on all four sides of the cardinal directions.
  3. Main Mandala (indoor) is the core of the building surrounded by lakes, footpaths and blank bale which are on every corner.

Vertically this monument is also divided into three parts that refer to the Tri Angga concept namely:

  1. Nistaning Utama Mandala (Nistaning Angga) is the lowest floor of a monument building. In this section there is an information room, exhibition room, library room, meeting room, souvenir shop, and toilet. In the middle of this floor there is a lake called Puser Tasik with eight majestic poles and the stairway going up is called Tapak Dara.
  2. Madianing Utama Mandala (Madianing Angga) is the middle or second floor which is used for the placement of thirty three diorama units, which are the miniature display of the Balinese Struggle from time to time.
  3. Utamaning Utama Mandala (Utamaning Angga) is the top floor that functions as a review room and place of reflection while enjoying the atmosphere of beauty around the monument.