Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Diorama 2

Diorama 2

BALI PADA MASA PERUNDAGIAN

Lokasi                                :     Sebuah pemukiman di Pulau Bali

Kronologi                           :     2.500 tahun yang lalu

Deskripsi Diorama             :    Orang-orang akan menguburkan mayat yang disimpan dalam sarkofagus, dilengkapi dengan bekal kubur seperti perhiasan dan manik-manik. Sementara beberapa orang lainnya sedang memahat wadah dari perunggu disebut nekara, dan di kejauhan menhir juga terlihat.

Masa perundagian diperkirakan diawali sekitar 2500 tahun yang lalu. Ciri-ciri utama pada masa ini adalah mereka telah hidup menetap. Mereka telah menguasai teknologi sederhana pembuatan tembikar tanah liat dan teknologi melebur logam. Sebagian besar alat-alat mereka terbuat dari tanah liat yang mudah pecah, sehingga sulit untuk dibawa kemana-mana. Hidup mereka mulai teratur dan sistem pembagian tugas telah diperkenalkan dalam kehidupan sosial mereka. Dalam sistem pemakaman mereka menggunakan sarkofagus sebagai peti untuk orang mati khususnya bagi mereka yang memiliki status sosial yang tinggi seperti: kepala desa atau kepala suku.

Sejumlah sarkofagus ditemukan di banyak desa di Bali seperti di desa Nongan (Kabupaten Karangasem), Bejing dan desa Sengguan (Kabupaten Klungkung), Bedulu, Mas, dan desa Tegalalang (Kabupaten Gianyar), desa Plaga(Kabupaten Badung), Ambyarsari dan desa Pangkungliplip (Kabupaten Jembrana), Poh Asem dan desa Tigawasa (Kabupaten Buleleng), dan lain-lain. Sarkofagus ini ditemukan bersama dengan bekal kubur seperti benda-benda perunggu seperti gelang dan kapak.

Salah satu peninggalan palaeometalitikum yang paling penting adalah wadah perunggu yang khas yang disebut nekara  yang sekarang masih tersimpan di pura Penataran Sasih di Kabupaten Gianyar. Ini adalah nekara terbesar yang ditemukan di Asia Tenggara dengan panjang 1,86 meter dan diameter 1,60 meter. Fungsi nekara tersebut adalah alat upacara untuk memanggil hujan. Ini menunjukkan bahwa nekara adalah produk teknologi canggih dan juga produk kesenian yang dapat dihasilkan pada masa itu. Ini dapat dilihat dari pola ornamen yang berupa gambar binatang, bulu burung, sepasang topeng, kodok, dan lain-lain. Nekara ini diperkirakan dibuat di Bali, karena cetakan dengan pola yang sama ditemukan di Desa Manuaba , Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar.

 

Diorama 2

Bali in Palaeometalic Period

Location          :  A settlement in Bali Island

Chronology     :  2,500 years ago

Scene              : People are seen going to bury a dead people being kept in sarcophagus, provided with grave accompaniments of jewelry and beads. Meanwhile, some other people are moulding a bronze kettledrum called nekara, and at a distance a menhir also can be seen.

The palaeomethalic period was predicted to have begun about 2,500 years ago. The main feature of this period is that man had settled down in certain places. They had mastered the simple technology of pottery and metallurgy works. Most of their tools were made of clay that was breakable, so that it was difficult to be brought everywhere. Their life began to be more organized and a job division system had been introduced in their social life. In funeral system, they used sarcophagus as a coffin for the dead especially for those from socially high level status such as: an ethnic or village head.

A number of sarcophaguses have been found in many villages in Bali such as in Nongan village (Karangasem Regency), Bejing and Sengguan villages (Klungkung Regency) , Bedulu, Mas, and Tegalalang villages (Gianyar Regency), Plaga village (Badung Regency), Ambyarsari and Pangkungliplip villages (Jembrana Regency), Poh Asem and Tigawasa villages (Buleleng Regency), etc. They were found along with their grave accompaniments of bronze things like bracelets and axes.

One of palaeometalic remains in Bali is a peculiar bronze kettledrum called nekara which is now still kept in Penataran Sasih Temple, Pejeng Village in Gianyar Regency. It is the biggest of the type ever found in Southeast Asiawith its length is 1.86 meters and its diameter or its striking surface is 1.60 meters. Nekara used to be a tool which was stricken in certain rites for requesting rain. It indicates a product of an advanced technology, as well as an aesthetical work piece that have been achieved that period. This can be seen from the ornament patterns which are figuring animals, bird feathers, a pair of masks, frog, etc. This nekara is assumed to have been made in Bali because a moulder with the same patterns was found in Manuaba village at Tegalalang district in Gianyar regency.