DASAR FALSAFAHÂ MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI
Monumen ini merupakan perwujudan dari Lingga dan Yoni. Lingga adalah Lambang Purusa (pria), sedangkan Yoni adalah Lambang Pradana (wanita). Pertemuan antara kedua unsur tersebut merupakan simbol kesuburan dan kesejahteraan. Selain falsafah Lingga-Yoni. Monumen ini juga dilandasi oleh falsafah kisah Pemutaran Mandara Giri (Gunung Mandara) di Ksirarnawa (Lautan Susu). Kisah ini bersumber dari Kitab Adi Parwa yaitu parwa pertama dari epos Mahabharata. Diceritakan bahwa para Dewa dan Daitya/Raksasa mencari Tirta Amertha (air kehidupan abadi) dengan jalan memutar Gunung Mandara di Ksirarnawa. Adapun pelaksanaan pemutaran Gunung Mandara (Mandara Giri) diatur sebagai berikut.- Kura- Kura (Akupa) sebagai Dasar Gunung Mandara.
- Naga Besuki sebagai Tali Pengikat dan Pemutar Gunung.
- Para Dewa memegang ekor naga dan para daitya memegang bagian kepala, sedangkan pada bagian atas dari gunung duduk Dewa Ciwa.
- Guci Amertha disimbolkan dengan Swamba (periuk) yang terletak pada ujung atas monumen.
- Ekor Naga Basuki diwujudkan di dekat periuk.
- Kepala Naga diwujudkan pada Kori Agung.
- Bedawang Nala (Akupa) sebagai landasan monumen terletak pada pinggiran telaga dan kepalanya pada Kori Agung.
- Ksirarnawa (lautan susu) sebagai kolam yang mengelilingi monumen.
- Gunung Mandara (Mandara Giri) sebagai Bentuk keseluruhan bangunan monumen.
- Anima :Â Â Â sifat yang halus bagaikan kehalusan atom.
- Lagima :Â Â Â sifat yang ringan bagaikan ether.
- Mahima :Â Â Â sifat yang maha besar mengisi semua tempat.
- Prapti :Â Â Â sifat mencapai segala tempat yang dikehendaki
- Prakamya :Â Â Â segala kehendak tercapai olehNya.
- Isitawa :Â Â Â sifat merajai segala-galanya dan paling utama.
- Wasitwa :Â Â Â sifat yang paling berkuasa.
- Yatrakama Wasayitwa :Â Â Â tidak dapat ditentang sifat dan kodratNya.
THE PHILOSOPHICAL BASIC OF THE MONUMENT OF BALINESE STRUGGLE
This monument is an embodiment of lingga and yoni. Lingga is male symbol (purusa), while yoni is female symbol (pradana). The meeting between the two elements is a symbol of fertility and well-being. In addition to the Lingga-Yoni philosophy, this monument is also based on the philosophy of the Mandara mountain screening (Mandara Giri) in ocean of milk (Ksirarnawa). This story comes from the Adi Parwa book, the first chapter (parwa) of the Mahabarata epic. It is said that the gods and giants (daitya) sought the water of eternal life (tirtha amertha) by turning around Mandara mountain in the ocean of milk. The implementation of the screening of mount Mandara is regulated as follows:- Turtles (akupa) as the base of mount Mandara
- Besuki Dragon (Naga Besuki) as a strap and turning mount.
- The gods hold the dragon’s tail and the daitya hold the head, while at the top of the mountain sits God Shiva.
- The earthen pitcher containing tirta amertha was symbolized by a kind of pot (swamba), which is located on the top of the monument.
- Naga Besuki’s tail is realized near the pot.
- The head of the dragon is manifested in the entrance gate (Kori Agung).
- Turtle (Bedawang Nala/ akupa) as the foundation of the monument is located on the edge of the lake and its head on Kori Agung.
- The pond that surrounds the monument as the symbol of Ocean of milk (Ksirarnawa).
- Mandara mountain (Mandara Giri) as the overall shape of the monument building.
- Anima :Â Â Â the mildness nature like atom.
- Lagima :Â Â Â the lightness nature like ether.
- Mahima : Â Â the great nature that fills all places.
- Prapti :Â Â Â the nature of reaching all desired places.
- Prakamya :Â Â Â all wills are achieved by Him.
- Isitawa :Â Â Â the nature of dominating everything and the most important One.
- Wasitwa :Â Â Â the most powerful character.
- Yatrakama Wasayitwa :Â Â Â His nature and His will cannot be challenged.