Translate

June 13, 2024

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

UPTD. MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI : ANGAWI OLEH SANGGAR SENI WAHANA SHANTI

Angawi” adalah  refleksitas perjalanan terbentuknya sebuah karya seni (musik) dengan menempatkan “proses “ pada derajat tertinggi dari sebuah siklus penciptaan seni. Karya seni merupakan hasil gagasan intelektual yang tidak dilahirkan dengan cara instan layaknya junk food pada restoran cepat saji. Ia (Karya Seni) adalah  sebuah proses pencapaian yang tidak  singkat dan di dalamnya terdapat konflik batin perjalanan intelektual Sang Kreator yang terproyeksikan dalam sebuah konsep garap yang sadar.

Angawi adalah sebuah karya musik baru yang memuliakan proses penciptaan sebagai satu  kesatuan yang teritegrasi, memaknainya  secara mulia dengan penuh kesadaran. Spirit laku ini diejawantahkan dengan pendekatan garap kompositorik melibatkan empat (4) instrument metalofoon yang meliputi dua (2) instrumen pemade dan dua(2) instrumen ugal. Karya ini diilhami oleh pola permainan gender, wayang yang kompleks dan rumit. Pendekatan dua (2) sistem garap pada register nada rendah (tangan kiri) yang memainkan melodi pokok dan sistem permainan pada registar nada  tinggi (tangan kanan) memainkan pola eloborasi berdasarkan progresi jalinan nada pokok diasimilasikan dengan pendekatan garap baru. Dua (2) instrumen ugal dalam komposisi ini dimainkan secara basic melody sedangkan dua (2) instrumen pemade akan megelaborasi pola permainan ugal dengan pola permainan fuga dalam arti yang sederhana. Perlu dibatasi bahwa apa yang dipahami sebagai teknik permainan tidak diadopsi begitu saja dari teknik permainan gender wayang (seperti penggunaan dua panggul oleh seorang musisi). Komposisi ini digarap secara spontan, dengan membiarkan partitur mereduksi bahasa verbalnya ke dalam  wujud konkret yaitu musik. Karya seni ini murni digarap dari  “nol” degan menempatkan proses kekaryaan sebagai bagian dari  komposisi ini. Batasannya adalah waktu (Shang Kala), waktu adalah penyagga yang membuat musik menjadi ada.  Sudah seharusnya kita menghargai waktu sebagai parameter perubahan dan  keberlangsungan tradisi kita sebagai sesuatu yang dinamis.

Sudah saatnya pemusik dan seniman diapresiasi secara pantas. Karyanya “dibeli” bukan malah “dibajak” oleh kepentingan kapitalistik demi untuk memuaskan selera pasar yang naïf. Karya ini hendak menyadarkan kita semua betapa sebuah proses merupakan bagian terpenting dari sebuah kekaryaan. Awam lebih menghargai wujud finalnya  sebagai karya seni yang utuh, ketimbang proses disebaliknya. Dan ini sangat berbahya bagi keberlangsungan apresiasi musik kita. Ketika sebuah karya seni dilihat dalam wujudnya yang konkret tanpa melihat proses disebaliknya, maka jangan heran tidak sedikit pelaku seni tulen atau pelaku seni yang masuk dalam tataran birokrasi tidak bisa mengapresiasi seniman secara pantas. Mereka tak ubahnya pekerja seni.