Sun. Mar 7th, 2021

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Tegang, Lomba Nyatua Bali Krama Istri Juara I Diraih Duta Jembrana

Kemampuan bercerita atau mendongeng, perlu persiapan yang matang. Untuk tampil prima di atas panggung, maka penguasaan materi, bahasa, vokal dan ekspresi bertutur menjadi kunci utama. Seperti suasana sedikit tegang terjadi saat Wimbakara (lomba) Nyatua Bali, serangkaian Bulan Bahasa Bali, di Wantilan Taman Budaya Denpasar, Jumat, 19 Februari 2021.
Perlombaan dilaksanakan dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat, namun tetap seru dimana para peserta yang tampil mewakili kabupaten kota di Bali adalah ibu-ibu PKK (krama istri). Masing- masing duta membawakan dongeng dengan durasi waktu 10-15 menit dihadapan tim juri. Pilihan Nyatua Bali bebas, dengan mengambil cerita rakyat yang populer di masyarakat diantaranya, I Litung dan I Kekua, I Tiwas dan I Sugih dan sebagainya.
Sebagai pemenang lomba Nyatua Bali kali ini adalah Ni Ketut Adi Maharani duta kabupaten Jembrana sukses meraih juara I, Juara II diraih Ida A W Sugiantari duta Kabupaten Karangasem dan Juara III direbut oleh Ni Made Martini dari Kota Denpasar.
Tim Juri yang menilai adalah Dr. Drs. Ida Bagus Rai Putra, M.Hum., Dosen Universitas Udayana, I Gede Tarmada, Praktisi Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali dan Ni Komang Ari Pebriyani, S.S., S.Pd., M.Pd., Guru SMA Dwijendra.
Tim juri Ida Bagus Rai Putra mengatakan, kunci keberhasilan mendongeng adalah penguasaan materi cerita yang baik. ” Kelemahan sedikit dalam lomba kali ini sedikit tegang, kalau Nyatua itu harua menguasai isi, narasi, temanya, bagaimana bisa menokohkan dengan baik, mengetahui kharakter yang diceritakan. Kemudian alur cerita harus dipahami, peristiwanya didalami dengan baik, memang semuanya itu harus dieprsiapkan lewat latihan yang bagus” jelas Rai Putra.
Ia menuturkan, orang bercerita tentang hewan misalnya tokohnya harus dipahami, suara macan bagaimana, suara burung seperti apa, kharakter itu yang membuat dongeng itu tersaji dengan bagus dan hidup. ” Kalau suara macan jangan seperti suara kucing, kalau suara burung yaa nyaring, harus menjiwai sehingga audien bisa merasakan ada di dalam cerita itu,” ucapnya.
Ia menambahkan, persiapan peserta lomba harus dimatangkan, latihan yang cukup. ” Mungkin saja karena masa pandemi, jadi wakil kabupaten kota waktunya yang terbatas, jadi kita maklum, ada beberapa penampilanya sedikit menurun, tidak semua ada juga yang bagus, kalau kedepanya sebaiknya bagi duta yang tampil ke Tingkat Provinsi diseleksi lewat lomba di masing-masing daerah, mana yang terbaik baru dikirim, jujur saja kalau tahun lalu pesertanya bagus-bagus karena lebih siap, ” ujarnya.
Dosen Unud ini lebih lanjut menambahkan yang terpenting juga dalam nyatua keutuhan cerita dan pesan yang ingin disampaikan juga jelas. “Kalau berbicara wana atau hutan, sesuai tema Wana Kertih, apa manfaat hutan upaya yang perlu dilakukan sehingga memberi pesan tersendiri kepada yang mendengarkan, kemudian anggah ungguhing basa, kalengutan basa bobotnya sangat tinggi, harus diperhatikan dengan baik,” saranya.
Pelaksana Teknis Bulan Bahasa Bali Made Mahesa Yuma Putra menuturkan, peserta Nyatua Bali adalah perwakilan krama istri (Ibu -ibu PKK) dari seluruh kabupaten kota. ” Antusias nyatua Bali luar biasa, seluruh kabupaten kota mengirimkan perwakilanya, ” jelas Mahesa.

Pihaknya menambahkan, materi lomba bagi peserta wajib memilih satua -satua yang masih eksis di masyarakat. Dan dalam satua yang dibawakan, peserta mampu menyajikan materi satua dengan baik terutama sesuai dengan tema yaitu melestarikan alam. ” Dongeng yang disajikam diusahakan membuat pesan- pesan untuk kelestarian hutan,” tegasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian