Sun. Mar 7th, 2021

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Asyik, Generasi Muda Ikuti Kriyaloka “Pameton Pengrupak Ring Ental”

Di jaman global ini, generasi muda ternyata memiliki hobi dan ketertarikan dalam membuat prasi (menggambar di daun lontar). Lihat saja dalam Kriyaloka (workshop) bertajuk “Pameton Pengrupak Ring Ental” di Gedung Kriya Art Center Denpasar, Minggu (21/2), para generasi muda betul-betul merasakan mengoreskan pengrupak di atas daun ental (lontar). Kriyaloka serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali 2021 itu diikuti sebanyak 25 peserta yang berasal dari universitas, sekolah seni dan masyarakat umum. Mereka dibimbing oleh I Gusti Agung Ngurah, S.Pd yang dipercaya sebagai narasumber.

Dalam kriyaloka itu para peserta diperkenalkan proses pembuatan dan pengolahan lontar dari baru memetik hingga lontar itu siap ditulisi. Mula-mula memilih bahan utama berupa daun lontar, lalu proses perendaman dengan menggunakan alat ember, selanjutnya ada penepesan agar ngepres. Selanjutnya adalah system pelobangan. “Setelah semua proses itu dilalui, baru kemudian bisa dipakai sebagai media tulis dan benda,” kata Gusti Agung Ngurah.

Namun sebelum itu, mesti melakukan pemulihan awal untuk memastikan apakah daun lontar itu bisa dipakai untuk material sebagai tulis atau gambar. Semua itu dilakukan dengan melihat langsung dalam pohonnya. Kalau lontar belulang, daunnya agak kasar, mudah pecah, sehingga sudah pasti tidak bisa dipakai. Ada daun lontar taluh yang memiliki kelenturan dan memiliki serat yang bisa dipergunakan untuk menulis atau melukis di daun lontar.

Menulis dan menggambar di daun lontar ada tiff khusus, sehingga daun itu tidak rusak. Kalau menulis di daun lontar pertama kali menyiapkan lontar yang sudah siap digambar dan ditulis. Syarat selanjutnya harus mempunyai pengrupak. Ada dua jenis perupak, yaitu perupak tipis khusus untuk menggambar, dan perupak tebal untuk menulis. “Perupa yang agak tebal itu akan sangat bagus untuk menulis tebal tipis sesuai goresan pengrupak ini,” ucapnya.

Dalam proses menggambar ada pewarna yang sangat menentukan hasil gambar itu bagus atau tidak. “Kalau warna itu sudah betul prosesnya bagus, maka hasil gambar yang dibuat akan tahan lama, seperti contoh di gallery saya. Warnanya bertahun-tehun tetap bagus. Untuk membuat gambar bagus, jenis pengrupak sangat menentukan. Perawatannya, tidak ada yang khusus. Untuk membuat agar tetap bagus jangan sampai kena air. Kalau kena debu kita bisa bersihkan dengan lap atau tisu,” ujarnya.

Pemilik gallery Yowana Kertha ini mengataku senang dengan ketertarikan generasi muda dalam melestarikan budaya dan tradisi Bali, khususnya nyurat aksara dan membuat prasi. Termasuk kegiatan kriyaloka saat ini yang diikuti anak- anak muda kreatif. “Saya sudah biasa membuat lontar sejak tahun 1983. Tujuannya agar anak-anak muda bisa melestarkan budaya kita, seperti menyurat lontar dan prasi yaitu pembuatan gambar dalam lontar. Saya punya inisisatif membuat gallery bernama Yowana Kertha yang mengajak anak-anak muda untuk menekuni hal ini, karena bisa dijadikan sebagai mata pencaharian setiap hari,” paparnya.

Workshop arahan I Gusti Agung Ngurah, S.Pd ini hasilnya akan dipamerkan menjadi bagian karya instalasi megibung bagian dari materi prasara prasikala. Karya instalasi yang berjudul “magibung” sebuah karya dengan konsep partisipatori, hasil karya penonton yang berkesempatan menorehkan pengrupak di atas daun ental kemudian menjadi bagian dari karya megibung. Budaya megibung lahir dari kebersamaan masyarakat pada aktivitas upacara-upacara adat di pelosok Bali. “Upaya menjaga etika kebersamaan semacam monumen peristiwa di wariskan sampai sekarang. Filosofi kebersamaan menjadi bantang dari tradisi megibung, kasta ataupun status sosial tidak berlaku dalam tradisi ini, semua tunduk pada tata nilai dan aturan yang sudah ditetapkan bersama,” sebut perupa otodidak yang karyanya pernah dibeli Presiden Jokowi itu.

Menurutnya, tradisi ini sampai sekarang masih hidup di Karangasem Bali timur, sudah mulai memudar di beberapa komunitas tergantikan model makan prasmanan. Mantan Bupati Karangasem I Wayan Geredeg, pernah menggelar acara magibung massal di Taman Sukasada Ujung, di hadiri 20.520 orang peserta, merupakan upaya melestarikan tradisi megibung.

Karya instalasi megibung mengembangkan konsep kebersamaan yang sekarang lebih populer dengan sebutan seni partisipatori, menggunakan media daun ental pengrupak sebagai alat menggores, serta kemiri gosong sebagai pewarna. Perupanya adalah pengunjung yang berkesempatan melakukan proses pembuatan prasi, hasil karya workshop akan menjadi bagian entitas karya megibung. “Mari bergabung dengan protokol kesehatan,” ajaknya.

Salah satu peserta, Sastra Wibawa mengaku senang dan sangat tertarik denga kegiatan kriyaloka ini. Bagi anak muda jaman sekarang, kegiatan ini masih awam, karena sudah biasa melihat teknologi, seperti handpone dan gagdet. “Jujur, untuk untuk kegiatan yang tradisi seperti ini memang agak kurang saya lakukan. Saya sudah biasa menggmbar, tetapi menggambar di atas daun lontar itu belum biasa, makanya penasaran untuk ingin tahu,” akunya polos.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian