Thu. Dec 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Teater Bumi Bali Tampilkan Detik-detik Proklamasi

Teater Bumi Bali pentaskan karya bertajuk “Detik-detik Proklamasi” serangkaian dengan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (30/10). Penampilan Teater Bumi Bali kali ini memang luar biasa, walau prosesnya jauh dari yang biasa. Artinya, pendukung dari teater ini berasal dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda-beda. “Detik-detik Proklamasi ini, bukan didukung  oleh actor professional, melainkan actor serabutan yang memiliki latar belakang berbeda,” kata Abu Bakar, selaku sutradara.

Garapan “Detik-detik Proklamasi” didukung sebanyak 49 aktor dari berbagai kalangan. Ada yang berasal pedagang di luak, pegawai ansuransi, tukang sulap, presenter, ibu rumah tangga, pembantu, guru, siswa SDS, SMP, SMA/SMK dan mahasiswa serta profesi lainnya. Mereka juga bukan berasal dari satu wilayah di Kota Denpasar. Ada yang dari Jimbaran, Tabanan, Bangli dan daerah lain di Bali. Meski peofesinya berbeda, namun dalam garapan ini mereka berhasil membentuk diri dengan gaya tim teater yang solid.

Teater “Detik-detik Proklamasi” ini juga lahir dari proses mengarap teater yang terbalik. Jika naskah dibuat terlebih dahulu, maka dalam teater ini naskah dibuat kemudian atau setelah proses itu dilakukan. Dalam prose situ, sutradara dapat menangkap peristiwa-peristiwa yang tak tampak, sehingga lebih leluasa berekspresi.

Tokoh utama yaitu Ir. Soekarno dimainkan oleh seorang lawyer. Demikian pula tokoh-tokoh lain yang dibawakan oleh orang yang bukan ahlinya. Walau demikian, merea mempu membawaka tokoh itu dengan baik. “Saya berangkat dari potensi dan ambisi pemain itu lalu mengolahnya. Saya lebih menekankan untuk menikmati proses berteater. Soal hasil akhir, apa yang tersaji di pentas, itu tak lagi terlalu penting,” ucap pencetus Monolog ini.

Teater Bumi Bali ini menerapkan konsep pentas yang berbeda dari biasanya yang menggunakan istilan kolatif. Ibarat lukisan kolase dari mosaic yang terserak dipinggiran arus utama sejarah, seperti termuat dalam buku-buku sejarah secara resmi. Ia menerapkan konsep interpretasi dalam kontek dekonstruktif (mempertanyakan/membungkar kembali) tesis atas pemahan sejarah ini. Hal itu terjadi dalam adegan Soekarno seorang manusia romantic. “Kami menampilkan tokoh yang kontra pada sejarah itu. Sebab, konplik itu menjadi titik bakar dan menarik,” ucapnya.

Dalam artian, sisi humanism sejarah diyakini sering diabaikan dalam penulisan sejarah resmiu. Padahalpelaku sejarah adalah manuisa yang multidimensional (sisi rimantisme, keraguan, main-main kegelisahan dan sisi manusiawi lainnya. Abu Bakar memaknai Festival Seni Bali jani ala dirinya, melalui karya seni teater yang mempunyai warna kekinian, yakni refrensentasi sisi laion kehidupan saat ini.

Tentang pilhan naskah, Abu Bakar sudah lama ingin pentaskan teater itu, yaitu sekitar 3 tahun lalu, tetapi belum menemukan moment yang tepat. Bertolak dari keprihatinnya di tengah kian surutnya sara ptariotisme, nasionalisme di tengah dinamika skosistem hidup dan kehidupoan yang kia cepat. “Saya pernah berkeinginan untuk menjadikan “Detik-detik Proklamasi” ini ditampilkan pada opening sebuah acara dulu, tetapi tiba-tiba muncul kembali ketika ada even Festival Seni Bali Jani, sehingga saya ingin mengangkatnya kembali,” pungkas Abu.

Ajang ini sangat beragam karena menampilkan berbagai kegiatan, seperti Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Aguron-guron (Workshop), Kandarupa (Pameran), Tenten (Pasar Malam Seni), Timbang Rasa (Sarasehan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian