Translate

EnglishIndonesian
July 2, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

STI Bali Tampilkan Prembon Tradisi ‘Wang Bali Mula Angugat’

DENPASAR – Sanggar Seni STI Bali menghadirkan kesenian prembon tradisi dalam menyemarakkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) pada Selasa (21/6/2022) malam. Mengangkat lakon ‘Wang Bali Mula Angugat’, STI Bali kisahkan tentang masyarakat Bali Mula yang merasa diperlakukan tidak adil, hingga air dijadikan sebagai bentuk protes dari rasa ketidakadilan tersebut.

Koordinator pementasan yang juga Ketua Sanggar Seni STI Bali, Ida Bagus Ketut Indra Darmawan memaparkan, lakon ‘Wang Bali Mula Angugat’ mengisahkan tentang zaman saat kepemimpinan Raja Dalem Ketut, di mana masyarakat Bali Mula merasa tidak cocok dengan kepemimpinan beliau. Ketidakcocokan tersebut karena dalam kepemimpinan Raja Dalem Ketut, beliau dirasa tidak adil dan tidak tahu bagaimana keberadaan (dresta) yang ada di Bali. Sehingga masyarakat Bali Mula merasa tidak sejalan.

“Jadi masyarakat Bali Mula ini merasa dianak-tirikan. Bahkan air yang ada di Desa Songan itu ditutup oleh masyarakat Bali Mula supaya tidak mengalir ke kota. Artinya masyarakat memprotes lewat danau ini. Bentuk protes lewat air ini kami angkat karena berkaitan dengan tema PKB, Danu Kerthi Huluning Amerta,” ungkap Indra Darmawan.

Lanjutnya, selihat adanya perselisihan tersebut, maka diutuslah salah satu Senopati yang bernama Patih Ulung ke Songan untuk melakukan diskusi. Isi dari diskusi tersebut di mana para masyarakat Bali Mula menginginkan agar raja Bali memeperlakukan mereka sama seperti dengan masyarakat Majapahit, dan tidak membeda-bedakan. Selain itu, Raja juga diminta untuk menjaga Parahyangan dan Sad Khayangan yang ada di Bali dengan baik, serta menjaga danau yang ada di desa Songan sebagai sumber kehidupan masyarakat Bali.

“Pada akhirnya kesepakatan tersebut disampaikan kepada Raja Dalem Ketut, dan beliau menyetujuinya. Dari kesepakatan tersebut, akhirnya semua bersatu, bisa akur, dan bisa saling berbaur. Jika kita tarik pesan yang disesuaikan dengan tema air, maka pesan dari pementasan adalah karena air adalah sumber kehidupan, jika saling memerlukan maka hendaklah saling bersikap baik,” katanya.

Bisa tampil berkesenian kembali secara offline sangat disyukuri oleh Sanggar Seni STI Bali. Pada kesempatan tampil di ajang PKB, STI Bali tak lupa tampil dengan ciri khasnya dalam menghibur penonton. Gelak tawa penonton pun terdengar ketika STI Bali mulai melucu. Kata Indra Darmawan, ada enam seniman yang tampil di panggung. Masing-masing dari keenam pemain tersebut juga langsung merangkap dua karakter. Pada pertunjukan ini, Indra Darmawan mengakui lebih menonjolkan karakter bondresnya.

“Pada karakter pertama, masing-masing berperan sebagai topeng tua, penasar kelihan, penasar cenikan, punta wijil. Sedangkan pada karakter kedua, kita menampilkan bondres di antaranya berperan sebagai Bondres Negaroa, Bondres Mang Olo, Bondres Pekak Gaul, Bondres Agung Asep, dan Desak Rai Ori, dan Liku Kucita Dewi,” jelas Indra Darmawan.

Untuk latihan para pemain, Indra Darmawan mengaku tidak terlalu memakan waktu, hanya sekitar tiga minggu. Namun untuk sekaa tabuh diakui memang membutuhkan waktu latihan yang lebih lama. Termasuk untuk penarinya yang latihan setiap empat hari sekali demi bisa menampilkan yang terbaik. Indra Darmawan pun berharap ajang PKB yang baru diadakan kembali secara offline pasca ‘sembuh’ dari pandemi ini bisa diselenggarakan lagi pada tahun-tahun mendatang.*