Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Prembon, kalangan Ayodya, 2 Juli 2019

Karya Penuh Cinta dalam Biduk Nestapa

Mungkin ini bukan pertama kalinya, tapi I Gusti Ngurah Artawan sudah lelah. “Saya tidak akan mempermasalahkan itu tapi biarkan hakim alam yang tahu,” tutur Ngurah pasrah pada Selasa pagi (2/7) di balik Panggung Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar.

Fenomena pembajakan pada karya seniman bukan suatu hal yang baru. Belum lama ini, I Gusti Ngurah Artawan yang menjadi Ketua Listibya Badung ini gerah. “Contohnya pentas topeng Tugek Carangsari aja ada di toko-toko, yang bersangkutan dan seniman-seniman lain tidak tahu dikira kita dapat sesuatu padahal tidak,” jelas Ngurah. Sambil menunjukkan foto seniman yang terpampang pada pembungkus kaset, Ngurah pun mengungkapkan sosok dalam foto itu adalah salah satu seniman sepuh yang kini hanya bisa terbaring di tempat tidur. “Pemerhati seni masyarakat seni, kita sedih sekali karyanya dimanfaatkan, dikomersilkan oleh orang lain tanpa sepengetahuan mereka,” ujar Ngurah prihatin. Dirinya yang turut menjadi penerus Sanggar Tugek Carangsari mengaku, sangat sulit membendung fenomena ini, sebab urusan seni dan perkara hukum masih jauh dari pemahaman para seniman.

Ketika seniman telah berkarya, namun biduk nestapa pembajakan menjadi derita mereka adalah sebuah kemirisan dalam dunia seni di Bali. Hal inilah yang membuat Ngurah tertarik untuk mengkoordinatori sebuah garapan yang diisi oleh para seniman sepuh di Badung yang sudah sangat melegenda di masyarakat Bali. Para seniman itu diantaranya I Gusti Ngurah Windia seniman topeng Tugek Carangsari, seniman dalang dan topeng Ida Bagus Gede Mambal, seniman dalang Gusti Raka Bawa, seniman arja I Nyoman Wija Widrasta, seniman dalang dan topeng I Ketut Nuada, dan pelawak Bali Ketut Rudita yang akrab dengan nama panggung Sokir. Para seniman tersebut menampilkan sebuah garapan bertajuk Gina Guna Pragina yang mengisahkan perjalanan mereka menjadi seorang seniman dan lengkap pula dengan fenomena-fenomena yang dialami para seniman. Ibarat sebuah hukum kualitas, ketika seniman itu memang bagus akan tercipta nama baik di benak masyarakat. Benar saja, Kalangan Ayodya pun tampak sesak akan kehadiran penonton yang ingin menikmati penampilan seniman handal ini. Keberadaan mereka dalam Pesta Kesenian Bali ke-41 diharapkan dapat memacu semangat berkesenian seniman muda, sebab regenerasi adalah hal utama dalam sebuah pelestarian.

Pementasan ini turut dihadiri oleh Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Badung Kadek Sandra Widari, Kasi Pelestarian dan Pengembangan Seni Dinas Kebudayaan Badung I Made Widiana, dan Sekretaris Listibya Badung I Made Mindrawan. Sebuah pekerjaan rumah bagi seniman, pemerhati seni, masyarakat, dan pemerintah untuk menjadikan PKB tak hanya sebagai ruang pelestarian kebudayaan, namun sekaligus pula perlindungan kebudayaan itu. Soal perlindungan karya seni, I Made Widiana pun memberikan komentarnya. “Kedepanya, akan disahkan dan memiliki kekuatan hukum Itu yang akan kita usahakan, lebih peduli akan hal itu, dan semoga mendapat jalan,” ujar Widiana. Semoga, para seniman yang telah berkarya dengan cinta tak lagi jatuh dalam biduk nestapa (*).