Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Sarasehan PKB ke-41 Tahun 2019

Ngunda Bayu, Proses Transformasi Menuju Kesadaran

Ngunda Bayu bukan sekedar ditafsirkan sebagai memindahkan angina atau tenaga. Tetapi Ngunda Bayu dapat dimaknai sebagai pengubahan bentuk melalui proses transformasi.Dimana dalam Ngunda Bayu di dalamnya terdapat tiga konsep linear yaitu Ngunda Bayu, Bayu Pramana dan Pramana Telu.

Hal itu menjadi benang merah dari Sarasehan Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2019 yang mengangkat tema ‘Memutar Arah Angin, Pengarusutamaan Kearifan Lokal Bali Untuk Kesejahteraan Umat Manusia’. Sarasehan digelar di Gedung Citta Kelangen, ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar, Selasa (2/7). Tampil sebagai keynot speaker, Prof. Wiendu Nuryanti, Ph.D dari Departemen Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta yang diwakili oleh Bambang Sunaryo. Sementara sebagai pembicara hadir I Gst. Putu Suryadarma, Ida Wayan Oka Granoka Gong (Maha Bajra Sandhi) dan  I Gede Arya Sugiartha (ISI Denpasar).

Menurut Suryadarma, Ngunda Bayu dapat dimaknai sebagai upaya pemindahan secara bertahap, berantai dalam satu kegiatan berkelompok terhadap sesuatu yang tidak dapat dikerjakan sendiri atau membentuk jaringan dan kegiatan. “Ngunda bayu atau tenaga dapat diterjemahkan sebagai upaya pengubahan bentuk melalui proses transformasi,” terang Suryadarma. Dalam kaitannya dengan perpektif Bali mandiri energy, menurut Suryadarma , model atau jejaring dalam ngunda bayu dapat dimaknai sebagai proses elaborasi dan transformasi.

Sementara itu dalam bahasa Ida Wayan Oka Granoka Gong terkait ngunda bayu ini terdapat tiga konsep linear yaitu ngunda bayu itu sendiri, bayu pramana dan pramana telu yang didasarkan atas keyakinan dalam tiga kontinum: pengertian,kecerdasan dan kesadaran (suprarasional) manusia Bali, dalam peralihan waktu genting (fenomena kritis).”Ngunda bayu itu intinya kembali ke artikulasi tugas yang paling hakiki dari peran bahasa merealisasikan  setiap tahap dasar penggenahan makna hidup yaitu arti-smerti-suskma yang gerak esensinya ke pusat terdalam. Kembali ke otentik dari jelmaan Ketuhanan YME,” jelas Granoka.

Adapun Arya Sugiartha memilih memaknai tema ngunda bayu ini lebih praktis dalam dunia seni.Untuk itu Arya Sugiartha dalam menafsirkan nguda bayu ini kedalam reorientasi penciptaan seni berbasis silang budaya. Menurut Arya Sugiarta, silang budaya tidak sekedar terbatas pada kolaborasi. “Karena interaksi silang budaya merupakan salah satu bentuk kesadaran baru dari masyarakat terbuka. Prinsip interaksi silang budaya adalah penghormatan pada keragaman sebagai sesuatu yang dikontruksi dan diperjuangkan,” urai Arya Sugiarta (*).