Thu. Dec 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019

DENPASAR – Wow keren……itulah untaian kata dari sejumlah pengunjung yang memadati Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, dalam pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019, Sabtu (26/10).
Sekejap, area panggung termegah di Taman Budaya berubah fantastik. Tak biasanya, tampilan panggung dengan ornamen yang kental Bali, identik menyuguhkan tradisi, namun malam itu, benar benar pandangan mata penonton dimanjakan alias “tersihir” dengan tampilan visual berbagai dimensi warna hasil suport video maping (Pemetaan video). Sebuah teknik pemetaan yang menggunakan pencahayaan dan proyeksi obyek secara visual akan berubah dari bentuk biasanya menjadi bentuk baru yang berbeda dan sangat fantastis.
Tak ayal, penonton sebagian besar kaum pelajar dan mileneal dibuat takjub, wow keren. Tak terkecuali Gubernur Bali yang hadir dan membuka secara resmi pagelaran seni modern yang baru pertama diprogram oleh Pemerintah Propinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Propinsi Bali.


Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kehadiran Festival Seni Bali Jani (FSBJ) 2019 yang diadakan untuk pertama kalinya dapat menjadi tonggak kebangkitan kesenian modern dan kontemporer yang memang dibanggakan generasi muda dan selalu dinantikan seluruh masyarakat Bali.
“Kini Bali memiliki dua wahana pembinaan seni yaitu Pesta Kesenian Bali (PKB) dan Festival Seni Bali Jani,” kata Gubernur Koster saat menyampaikan sambutan membuka FSBJ 2019.
“Seni tradisi telah mendapat ruang untuk berkembang dengan sangat baik melalui Pesta Kesenian Bali yang digagas oleh Ida Bagus Mantra, Gubernur Bali periode 1978-1988. Kita patut bersyukur, PKB telah dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan oleh pemerintah daerah bersama masyarakat dan tahun ini telah berusia 41 tahun,” katanya.
Namun, yang belum mendapat ruang adalah seni modern dan kontemporer, itulah sebabnya dia secara khusus menggagas Festival Seni Bali Jani, setelah melalui diskusi dengan para ahli dan pelaku seni di Pulau Dewata.
“Saya sangat berharap seni modern ini tidak saja untuk kemajuan seni itu sendiri, tetapi membuka ruang dengan dimensi baru yaitu munculnya industri ekonomi kreatif berbasis budaya ‘branding’ Bali guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali secara berkelanjutan,” kata gubernur kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng itu.
“Ini menjadi ruang aktualisasi segala nilai luhur dan keindahan seni budaya Bali, serta merupakan suatu upaya nyata kegairahan generasi milenial dalam berkesenian,” katanya.
Lanjut Gubernur, Seni budaya merupakan DNA orang Bali. Seni dan budaya selalu hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat, serta digeluti secara tekun dan konsisten oleh masyarakat Bali. “Saya menggagas pola memajukan seni dan budaya Bali secara komprehensif dan tertata sebagai strategi pemajuan kebudayaan Bali ke depan,” katanya pada acara yang dihadiri ribuan penonton yang didominasi kawula muda itu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan “Kun” Adnyana mengemukakan ajang FSBJ mewadahi kreativitas seni masa kini. Festival yang dilaksanakan perdana ini akan digelar selama dua pekan, dari 26 Oktober hingga 8 November 2019 di areal Taman Budaya Provinsi Bali.
“Festival Seni Bali Jani merupakan jawaban atas mimpi-mimpi dan harapan komunitas seni modern, kontemporer, dan karya inovatif seniman seluruh Bali. Penantian akan wadah ini sudah cukup panjang karena selama ini komunitas dan pemangku kepentingan bersifat inisiatif dan belum mendapatkan ruang yang sempurna untuk menampilkan karya-karyanya,” katanya.
Adapun FSBJ 2019 mengangkat tema “Hulu-Teben: Dialektika Lokal-Global” akan menampilkan berbagai kegiatan lomba (pawimba), lokakarya (aguron- guron), pergelaran (adilango), pameran (kandarupa), pasar seni (tenten) dan sarasehan (timbang rasa). Untuk mengakomodasi itu, FSBJ 2019 total diikuti sebanyak 1.692 seniman muda seluruh Bali.
Pihaknya berharap festival ini bisa menjadi panggung, ajang kontestasi, ajang pergelaran agar bisa menunjukkan kualitas dari karya kreatif yang dilakukan tanpa batas.
“Platform konseptual Festival Seni Bali Jani terdiri dari eksplorasi, eksperimentasi, lintas batas, kontekstual, dan kolaborasi. Sekiranya, festival ini bisa menjadi ruang seluas-luasnya untuk kreativitas baru, ekspresi baru, dan menunjukkan pada dunia bahwa pemajuan kesenian di Bali selalu hidup hulu (seni tradisi) dan teben atau hilir (seni kontemporer dan modern),” kata akademisi ISI Denpasar itu.
Gubernur Koster menandai pembukaan FSBJ 2019 dengan mengayunkan pedang laser ke arah gapura yang ada di Panggung Terbuka Ardha Candra. Saat Koster mengayunkan pedang lasernya, muncul visual sayatan pedang.

Pembukaan pun dimeriahkan dengan garapan Opera Kabaret “Babat Gumatat Gumitit” yang berkolaborasi bersama antara Teater Kini Berseri, Teater Topeng SMAN 2 Denpasar, Teater Blabar SMAN 4 Denpasar, Teater Limas SMAN 5 Denpasar, Teater Kirana SMAN 6 Denpasar, Teater Bagol SMKTI Bali Global Denpasar, Teater Teras SMAN 1 Kuta, Teater Sumukhi SMKN 2 Denpasar, Teater Orok Unud, ISI Denpasar, Komunitas Djamur dan BTS Production.
Masyarakat yang memenuhi Panggung Terbuka Ardha Candra, yang didominasi pelajar dan mahasiswa tak henti-hentinya melepas tawa karena kocaknya garapan yang dibawakan dan dipadukan dengan tata cahaya yang begitu apik dan modern.
Babad Gumatat Gumitit ini mengisahkan tentang serangga-serangga dan mahluk kecil lainnya yang sedang mengumpulkan enam mustika dari enam tempat, yaitu hutan, danau, laut, gunung sesuai visi Gubernur Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru.(sur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian