Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Parade Drama Gong, Sekaa Drama Gong Jala Pramana, Desa Jelekungkang, Kec. Bangli, Duta Kabupaten Bangli. Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali – Sabtu 6 Juli 2019, 19.30 wita.

Drama Gong Bangli, Mencoba Hidupkan Petruk dan Dolar

Malam itu (6/7) di Kalangan Ayodya, ada nostalgia. Dua pelawak dengan penampilan wajah yang merah dan juga kerutan-kerutan wajah yang sengaja dibuat, masyarakat tahu mereka Petruk dan Dolar. Begitulah Sekaa Drama Gong Jala Pramana mencoba menghidupkan tokoh kesenian dari Bangli.

       Nama Petruk (I Nyoman Subrata) dan Dolar (I Wayan Tarma) begitu melegenda. Dua tokoh kesenian drama gong di Bali itu biasanya memerankan abdi raja yang gemar melontarkan bebanyolan. Mereka kian melambung bersamaan dengan puncak kejayaan drama gong pada tahun 19980-1990an. Sungguhlah duo banyol itu memberi banyak inspirasi untuk seniman di Bali, tak terkecuali para penerus generasi drama gong di Bangli. “Petruk dan Dolar adalah dua tokoh khas Bangli, sehingga mereka pula yang menjadikan Bangli begitu khas, itulah yang kami tampilkan hari ini,” tutur I Nyoman Sukarja selaku koordinator Sekaa Drama Gong Jala Pramana.. Hari ini sekaanya tampil dalam parade drama gong perwakilan Desa Jelekungkang, Kecamatan Bangli sebagai duta Kabupaten Bangli.

Duta Kabupaten Bangli ini membawakan garapan yang berjudul “Ubes-Ubes Kencana” yang berlatar Kerajaan Linggar Petak. Lakon ini mengisahkan tentang perjalanan Ki Jayengrana yang mencari Diah Nariratih sebagai utusan dari Raden Wisnu Semara Putra. Raden Wisnu yang amat rindu dengan Diah ternyata harus bersaing dengan raja yang juga ingin memperistri Diah Nariratih. Di tengah-tengah pertunjukkan pun muncul dua tokoh pamungkas yang selalu melontarkan lawakan, yakni Petruk dan Dolar khas ala Sekaa Drama Gong Jala Pramana. Penonton pun antusias dan memadati Kalangan Ayodya. “Untuk persiapan, dari konsep sudah tiga bulan, sedangkan latihannya itu sekitar satu bulan,” ungkap Sukarja seraya menghapus makeup di wajahnya saat ditemui seusai pementasan di kalangan Ayodya, Taman Budaya

Penampilan dari Sekaa Drama Gong Jala Pramana ternyata dinilai kurang maksimal. “Penampilan hari ini agak menurun, karena vokal, mimik, dan geraknya cenderung monoton,” ungkap Wayan Puja, salah satu pengamat seni Drama Gong. Di sisi lain, Wayan Puja juga mengkritik durasi lawakan yang dinilainya terlalu panjang. “Sehingga struktur drama gong yang harusnya mengerucut, ini kemudian buyar,” ucapnya. Wayan Puja yang juga salah satu perintis dan pemain drama gong pada era tahun 1965 ini berpesan agar para seniman muda tidak sungkan untuk berdialog dengan para seniman yang sebelumnya. “Bukannya ingin mengajari, tetapi ibarat baju, saya sudah sangat ingin memberikannya pada generasi seniman muda, berkomunikasi penting agar regenerasi bisa berjalan sempurna,” tanbah Puja seraya mengerutkan dahinya. Sebab baginya, dengan berdialoglah sesungguhnya para seniman muda tidak lupa dengan sejarah keseniannya.

Giliran Buleleng dan UNHI yang Bersanding

Penampilan yang tak pernah sepi penonton, datang dari Parade Gong Kebyar Dewasa di Panggung Terbuka Ardha Candra (6/7). Para peserta masing-masingnya selalu membawa massa yang setia mendukung daerah maupun institusinya. Adapun parade gong kebyar dewasa kali ini menampilkan persembahan karya dari Sanggar Seni Bayu Teja Budaya sebagai Duta Kabupaten Buleleng dan Sekaa Gong Kebyar Maha Widya Kerthi Merdangga, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Adapun Buleleng menampilkan empat materi, diantaranya tabuh kreasi “Jagal” yang merupakan sebuah komposisi musik baru yang terinspirasi dari sistem nampah kebo di banjar Gunung Ina, Desa Lomapaksa. Menurut cerita masyarakat setempat, penampah kebo harus berjumlah ganjil, hal ini dikejawantahkan ke dalam posisi musik yang juga berjumlah ganjil. Kemudian, terinspirasi dari proses pemitalan dan pencelupan benang di Banjar Pamesan, Desa Lokapaksa, Buleleng, membuat Sanggar Seni Bayu Teja Budaya membawakan Tari Kreasi “Bayu Jangra Pengamesan”. Di sisi lain, ada pula persembahan Solah Ngerawit “Nyekatih” yang merupakan gending tua khas Buleleng. Di akhir penampilan, Buleleng mempersembahkan Sandya Gita “Bayu Teja Budaya” yang merupakan cerminan dari kesenian Buleleng yang dikenal beragam dan berkarakter keras.

Sedangkan Sekaa Gong Kebyar Maha Widya Kerthi Merdangga, Universitas Hindu Indonesia Denpasar juga menampilkan empat materi; Tari Kekebyaran “Abhinaya”, Tabuh Kreasi “Bayu Raksa” yang terinspirasi dari Bayu atau angin, Sandya Gita “Sapta Pada”, Solah Ngerawit “Genta Hredaya” dimana terinspirasi dari suara genta yang bersumber dari suata hati (hredaya) (*).