Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Pentas India, 6 Juli 2019

Partisipasi India

Menghargai Kekuatan Seorang Wanita

“Kemuliaan seorang wanita adalah anugerah dari alam semesta, hargailah wanita lebih dari apapun di dunia ini,” ujar Manohar Puri selaku Direktur Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda dalam sambutannya di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, pada Sabtu Malam (6/7).

Kursi merah yang terhampar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar telah dipenuhi para undangan dan penonton yang sudah tak sabar menyelam dalam indahnya garapan bernafas Hindu-India. Meski bernafaskan Hindu-India, namun seluruh penampil adalah orang Indonesia asli yang tergabung dalam Pusat Kebudayaan Swami Vivekananda cabang Bali yang berdiri pada tanggal 26 Oktober 2005. Pusat Kebudayaan ini berada dibawah perlindungan Indian Council for Cultural Relations (ICCR), Kementerian Luar Negeri India, dengan harapan dapat memperkenalkan serta menyebarkan informasi tentang segala aspek tentang India khususnya kebudayaan pada masyarakat Bali. Kehadiran Manohar Puri dalam memberikan sambutan perihal keberadaan Swami Vivekananda sekaligus memberi pesan terkait garapan malam itu mengundang tepuk tangan penonton.

Memuliakan seorang wanita yang ditekankan Manohar Puri memang telah menjadi kewajiban seluruh umat. Wanita yang dilambangkan sebagai simbol kehidupan dan kekuatan diterjemahkan melalui garapan bertajuk Nav Durga – Jagatjanani yang bermakna Kekuatan Seorang Wanita. Dalam kepercayaan Hindu di India, keagungan seorang wanita dilambangkan dengan sosok Dewi Durga yang menjadi pelindung sekaligus pemusnah alam semesta. Dewi Durga juga dikenal dengan sosok Dewi Uma dan Dewi Parwati yang penyayang. Setiap pesan bajik untuk menghargai wanita tertuang dalam setiap gerak dan dialog yang diutarakan sang narator teatrikal ini. Sebelum penampilan teatrikal ini, terlebih dahulu dipersembahkan sebuah Yogasana dari SVCC Yogasana. Para penampil pun tampak luwes dengan gerakan yang cenderung ekstrem dan lentur. Koreografi yang diciptakan oleh koreografer Shri Sanjay dan Kumar Choudhary berhasil membuat penonton berdecak kagum dengan tak henti-hentinya memberikan tepuk tangan.

Selepas gerak yoga, penampilan pun dilanjutkan dengan Tari Khatak yang ditarikan oleh seorang penari pria. Gerak tari ini berfokus pada gerakan kaki yang telah terpasang gelang berlonceng. Sehingga dengan gerakan yang atraktif semakin riang dengan bunyi dari lonceng gelang kaki. Menurut I Made Bandem yang dikenal sebagai maestro tari, bawasannya garapan khas India memang cenderung memberi moral dalam setiap pementasan, utamanya garapan teatrikal. “Dalam narasi cerita selalu ada filsasat dan moral story dari setiap pementasan tari India itu,” jelas Bandem. Bandem yang turut menyaksikkan ketiga garapan terkait Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019, menuturkan adanya kegiatan pengenalan budaya lain sangatlah positif, baik dari segi persahabatan maupun memperkaya wawasan budaya. “Ada materi yang menghubungkan mereka sehingga tidak hanya dengan membaca dan mendengar saja, lewat tari juga bisa,” ujar Bandem. Bandem pun tak menampik melihat gerak penari yang masih harus diperdalam, sebab memang tak mudah mendapatkan nafas gerak India seutuhnya dalam penari Indonesia khususnya Bali. Meski demikian, garapan sarat makna tersebut sudah berhasil menjadi jembatan budaya Bali dan India yang senantiasa berkelanjutan (*).