Translate

EnglishIndonesian
November 27, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

DISBUD PROV. BALI : VIRUS OLEH SANGGAR TEATER AGUSTUS

Di suatu kampung atau desa, masyarakatnya tenggelam dalam suasana eforia tahapan new normal sebagai ujung era pandemi Covid-19. Para petinggi dan aparat desa sibuk menangani serta menjelaskan segala hal terkait pemahaman new normal sampai ketentuan protokol kesehatan kepada semua masyarakat dengan berbagai perangai dan karakternya.Pak Kades dan Sekdes sering bersitegang. Kerja segitu saja kamu tidak becus. Mencla-mencle! Baang gae amonto dogen awake suba keteteran. Kudang tiban suba awake dadi Sekdes, nu masih ongol-ongol, cerocos Kades kepada Sekdes yang dinilainya sering lambat dalam menjalankan tugas-tugasnya. Di tengah situasi new normal seperti sekarang ini kita harus bekerja cermat, koordinatif, sampaikan data-data yang akurat, jangan sampai ada yang tercecer seperti itu. Ngerti? tegas Kades dalam berbagai kesempatan.

Pak Kades menceramahi Sekdes tentang keadaan negeri yang kini masih sengkarut pasca pandemi COVID-19. Sejumlah data, situasi, dan kabar terkini dipapar Kades. Sekdes hanya manggut-manggut, tapi sembunyi-sembunyi ia tersenyum. Di akhir ceramah Kades, Sekdes berkata, “Sebenarnya, maaf, semua yang Bapak paparkan itu saya sudah tahu. Kan saya juga baca koran, nonton tv, dan simak medsos…” Kades hanya mesem-mesem.

Di tengah perdebatan Kades dan Sekdes, datang Hansip membawa Luh Beling, seorang wanita muda yang tengah hamil. Hansip mengatakan kepada Kades bahwa wanita hamil yang ditemukannya di wantilan desa itu seperti orang kebingungan sedang mencari anaknya yang hilang. Kades memerintahkan agar hal itu segera ditangani Hansip beserta jajaran aparat desa lainnya. “Ayo, Sekdes dan Hansip, kita usut perempuan ini! Cari anaknya yang hilang itu!” perintah Kades.

Pada tempat yang lain, ada Men Ugig wanita glamor berpengaruh yang sering ditinggal suami dan Bu Lela yang janda. Mereka berbincang soal pandemi COVID-19, new normal, soal suami, sampai perihal rencana Men Ugig ingin menjodohkan Bu Lela dengan Pak Kades yang duda kaya. Sedang asyik mereka berbincang, datang Pak Dukun yang lalu panjang-lebar menyampaikan sejumlah pendapatnya soal pandemi, soal virus, serta soal penyakit secara umum, dikaitkannya dengan teori-teori mistis dan spiritual. Karena tak tahan dan tak mengerti apa yang dibincang Pak Dukun yang sok tahu itu, Men Ugig dan Bu Lela pun pergi. Pak Dukun hanya bisa melongo, kesal, lalu pergi.

Di suatu kesempatan yang lain lagi, ada dua Pecalang. Mereka berbincang tentang tugas-tugas pengamanan wilayah yang sudah dan akan mereka lakukan. Mereka secara terus menerus mengimbau agar masyarakat selalu mentaati protokol kesehatan. Sesaat kemudian datang Pak Bos dengan gaya necis dan perlente yang sibuk mengurus kekayaannya. Kedua Pecalang pun menyarankan agar Pak Bos bisa ikut menyumbang membantu beban masyarakat terdampak COVID-19. Di bagian lain, datang bule bernama Mister Penky yang juga punya persoalan tersendiri. Mister Penky ini berasal dari Australia, kini sudah menjadi orang Bali, beragama Hindu, dan menikah dengan wanita Bali.

Semua sosok atau figur-figur masyarakat tersebut ternyata memiliki kepentingan yang sama, yakni menghadap Pak Kades. Pak Kades tambah pusing karena semua ngomong riuh, akhirnya berkata dengan suara keras, “Semua ngomong, mana yang harus saya dengar? Kalian tidak sadar sekarang kita semua sedang perihatin? Kita semua harus menjaga mulut dan tindakan kita masing-masing. Ternyata sesungguhnya kita sekarang tidak sedang menghadapi bahaya virus Corona, tetapi menghadapi virus dari omongan dan tindakan kalian! Kalian semua adalah penyebar virus sesungguhnya: virus gosip, virus fitnah, virus adu-domba, virus hoaks, virus kebohongan, virus kepura-puraan, virus kesombongan, virus kelicikan, virus provokasi… ah!!! Kalianlah sebenarnya virus itu! Virus Corona atau COVID-19 memang berbahaya, tapi jauh lebih berbahaya virus yang kalian sebar karena mampu menghancurkan segala segi kehidupan lahir dan batin!

Akhirnya, di ujung cerita, Luh Beling angkat bicara. “Maaf semuanya, ternyata anak saya tidak hilang, tapi masih ada dalam perut,” katanya sambil menunjuk perut hamilnya. ***