Translate

June 17, 2024

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Bangli Jadi Pamungkas Parade Gong Kebyar, GKD Mebarung dengan GKA

DENPASAR – Duta Kabupaten Bangli menjadi pamungkas dari rangkaian Utsawa (Parade) Gong Kebyar di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022. Dua sekaa gong kebyar yang ditampilkan Kabupaten Bangli di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (6/7/2022) malam, yakni Gong Kebyar Dewasa (GKD) diwakili oleh Sekaa Gong Asta Yowana Swara, Kelurahan Kawan, Kabupaten Bangli dan Gong Kebyar Anak-anak (GKA) Sanggar Seni Tari dan Tabuh Sakura Dewata, Banjar Metro Kaja, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli.

Penampilan duta Kabupaten Bangli disaksikan langsung oleh Gubernur Bali,  Bapak Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali, Bapak Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati. Sedangkan dari Pemkab Bangli, hadir Bupati Bangli, Bapak Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli, Bapak I Wayan Diar, serta jajaran OPD Pemkab Bangli. Masing-masing sekaa berupaya menggali pemaknaan tema PKB XLIV Tahun 2022. Penampilan diawali dengan menyanyikan lagu kreasi Pucuk Bang sebagai maskot Kabupaten Bangli.

Sekaa Gong Asta Yowana Swara, Kelurahan Kawan menampilkan beberapa garapan di antaranya Tari Kreasi Bungan Pucuk Bang di mana merupakan transformasi ide yang ditata khusus sebagai tari maskot Kabupaten Bangli. Bunga Pucuk Bang berarti sifat keberanian, berjiwa besar dalam mengambil posisi di puncak atau di depan, berlandaskan kesucian. Bunga Pucuk Bang memiliki warna merah darah, daun bunga kembang dan tampak kekar, sarinya tegak lurus di tengah-tengah yang secara keseluruhan bentuknya sangat proporsional, tegar dan indah dengan daun hijau lembut yang subur.

“Untuk merealisasikan makna Pucuk Bang tersebut, maka dituangkanlah ke dalam sebuah karya cipta tari kreasi, dengan pengolahan gerak tari dan alunan musik menyatu secara utuh dalam satu kesatuan. Garapan ini ditarikan oleh 9 orang penari campuran menandakan kebesaran jagat raya sebagai sarining Padma Buana,” ungkap Koordinator GKD Bangli, I Wayan Gunawan.

Sedangkan penampilan kedua GKD Bangli menampilkan tabuh berjudul “Bonang Nyampuh” yang terinspirasi dari bentuk tabuh komposisi klasik Bebonangan yang kemudian dikembangkan dengan berbagai ornamentasi dari berbagai unsur musik yang Ada, baik pengolahan melodi, ritme, tempo serta dinamika yang lain. “Ibarat aliran air, Ornamentasi itu datang dari berbagai sumber mata air lalu melalui alurnya masing-masing yang akhirnya pada tempat tertentu “Air” itu bertemu dalam 1 titik yang dalam istilah bali sering kita sebut sebagai “Campuhan” dan Campuhan itu penata ibaratkan inspirasi tabuh Bebonangan yang menjadi muara pertemuan dari berbagai ornamentasi yang ada,” jelasnya.

Sementara penampilan pamungkas GKD Bangli menampilkan fragmentari berjudul Agrabhawana yang terinspirasi dari melihat air. Jita belajar tentang ketenangan, kelembutan yang bisa menenggelamkan . Air mampu menembus gunung bukan karena kekuatannya semata melainkan dengan keteguhan dan kegigihannya. Begitu pula air dengan kelembutannya mampu menembus gunung, sekalipun melalui celah yang teramat kecil. Begitulah ibarat perjuangan seorang putri Raja Bangli bergelar Dewa Ayu Den Bencingah dikisahkan memimpin di bumi asri nan sejuk Bangli. Beliau sangat dicintai rakyatnya karena memiliki hati yang lemah lembut mengayomi rakyatnya tanpa membedakan status sosial.

Pada suatu ketika saat sedang bercengkrama dengan rakyatnya, tiba- tiba beliau mendengar kabar bahwa bala tentara pasukan Kerajaan Tamanbali dan sekutunya di bawah pimpinan perang Cokorda Mas telah sampai menyerang wilayah Bangli.
Ibarat naluri seekor induk ayam saat mendapat mara bahaya maka ia akan selalu melindungi anak-anaknya dengan mengamankan mereka dibawah sayapnya. Begitu pula kala itu Dewa Ayu Den Bencingah setelah mengetahui rakyatnya dalam ancaman besar akan serangan musuh, maka sebelum jatuh korban semakin banyak beliau segera mengungsikan rakyatnya ke Bukit Kehen. Hingga pada waktu yang dirasa tepat beliau memimpin rakyatnya berperang kembali melawan musuh mempertahankan wilayah Bangli. Demikian perjuangan sosok Srikandi Dewa Ayu Den Bencingah dengan kemampuannya menata hati dan perasaannya hingga mampu tenang memusatkan pikiran menuju Agrabhawana.

Gunawan mengungkapkan, untuk proses kreatif dari GKD Bangli diakui dilakukan penunjukan dari Kabupaten pada bulan Februari 2022. Adapun seniman yang terlibat merupakan seniman muda yang merupakan anggota Sekaa Teruna di 8 banjar di Kelurahan Kawan. Selama proses latihan, kata dia, tidak begitu menemui kendala yang berat. “Hanya kendala waktu latihan saja. Untuk mengumpulkan mereka agar klop latihan, itu yang perlu kami atasi,” katanya

Sementara itu, dari GKA Sanggar Seni Tari dan Tabuh Sakura Dewata menampilkan permainan dalam Tari Dolanan Mesau-sauan yang diangkat dari prosesi atau bagian upacara yadnya di Desa Adat Buahan, kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli. Prosesi ini dilakukan di pinggir danau yang dipersembahkan kepada Dewi Danu atas berkah yang kita dapatkan dari isi Danau Batur. “Prosesi ini dilaksanakan pada saat di akhir upacara yadnya. Yang mana konsep sesungguhnya untuk bersenang-senang di akhir upacara Yadnya. Berangkat dari sini, penggarap mempunyai sebuah ide untuk mengkemas sebuah prosesi ini menjadi sebuah permainan anak-anak dalam Tari Dolanan. Guna menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak- anak sejak usia dini,” ungkap Koordinator GKA Bangli, Nyoman Gede Nuada.

Selanjutnya, tari kreasi berjudul “Nyet Nyat” yang menggambarkan kegiatan anak- anak di pinggir danau memelihara kelestarian dan ekosistem air dimulai dengan rasa “ Nyet “ untuk memelihara dan mengembangkan ikan mujair, sehingga terciptalah sajian khas Bangli yaitu Nyatnyat. Sementara untuk seni karawitan, dipersembahkan Tabuh Telu Pepanggulan berjudul “Wintang Danu” yang menggambarkan indahnya alam pegunungan dengan pemandangan yang terbentang luas, berpadu dengan keindahan alam di Bali, terlebih suara kicauan burung yang merdu diiringi dengan keindahan danau batur yang memancarkan aura kesucian dan kedamaian dapat membangkitkan rasa indah dalam jiwa.

“Selaras dengan sumber air yang mengairi Pulau Bali yaitu Danau Batur yang harus kita jaga kebersihan dan kejernihannya. Mereka yang menjaga adalah mereka yang tinggal di pesisir danau Batur yang dikenal sebagai desa Wintang Danu. Mereka berperan secara sekala dan niskala untuk memuliakan air sebagai sumber kehidupan,” ujarnya.*