Tue. Sep 29th, 2020

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

UPTD. MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI : MACEPUK OLEH SEKAA GAMELAN PESEL KOTA DENPASAR

Macepuk yang berarti “bertemu” merupakan tajuk yang diangkat pada karya musik ini. Tiga bulan terakhir pertemuan secara langsung tidak mungkin dilakukan karena pandemi yang melanda dunia. Sulit bagi kita sebagai makhluk sosial untuk beradaptasi dengan keadaan ini, melihat normalnya kita selalu saling berhubungan antara satu sama lain. Hal ini juga berpengaruh bagi kehidupan pada lingkup “banjar” di bali.

Banjar merupakan salah satu budaya bali yang diwariskan secara turun temurun untuk dapat menjaga nilai kekeluargaan di dalam masyarakat. Sistem banjar diterapkan sejak zaman pemerintahan Raja Ugrasena dari dinasti Warmadewa. Gambaran tentang suasana banjar pada abad ke 11 Masehi juga dibuatkan diorama dan dipajang secara apik di Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Melihat dan mengamati sendiri diorama tersebut membuat daya imajinasi dan keinginan untuk membuat karya musik di tengah pandemi ini semakin besar.

Karya ini merupakan curahan hati yang berharap agar keadaan cepat membaik dan bisa bertemu atau “mecepuk” seperti dulu. Berbagai rasa, berbagai pikiran, berbagai sifat, berbagai persepsi diaplikasikan oleh penonjolan dan pengolahan dari instrumen gamelan pesel yang merupakan media gamelan baru yang saya konsep dan tercipta pada tahun 2013. Segala penataan elemen-elemen musik pada karya ini ingin mencapai berbagai keadaan yang mampu mewakili suasana banjar dikala “macepuk”, dimana ditemukan berbagai rasa yang sangat beragam dan komplek.

Pandemi ini membuat hampir semua kegiatan masyarakat mempunyai batasan, namun buatlah keterbatasan itu sebagai cambuk pemotivasi diri untuk bisa lebih kreatif untuk mencari solusi, agar kehidupan lebih ekspresif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian