Tue. Nov 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Teater Mandiri Pimpinan Putu Wijaya Pentaskan Bila Malam Bertambah Malam di Gedung Ksirarnawa

 

Peace dua adalah sebuah mosaic yang menunjukan berbagai kekalutan yang terjadi di dalam kehidupan, baik di dalam kehidupan masyarakat maupun dalam keluarga.

Kekalutan yang sambung-menyambung dan tak henti-hentinya, hingga menimbulkan gesekan-gesekan yang mengakibatkan memuncaknya konflik, menjadi pertengkaran permusuhan dan keinginan untuk kalah menyalahkan.

Lingkaran setan itu tidak bisa dibiarkan berkepanjangan, kita harus menghentikannya. Itu sangat berbahaya, apabila kita menyangka bahwa kekerasan akan mampu untuk membina kedamaian.

Damai yang paling damai hanya bisa dicari dengan damai. Segala kesulitan adalah bagian dinamika dan romantika hidup. Untuk mangatasinya jalan yang paling ampuh telah kita miliki dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Hidup damai dalam segala perbedaan.

Inilah peace-peace yang dipersembahkan oleh Teater Mandiri yang berkolaborasi dengan teman-teman laboratorium study di Gedung Kseiarnawa dalam ajang Festival Seni Bali Jani, Sabtu (2/11). Taerter merupakan karya dan disutradara Putu Wijaya.

Tampilnya kembali Teater Mandiri Jakarta, asuhan Putu Wijaya  semakin memperkaya warna seni pertunjukan teater di Bali. Paling tidak hadirnya kelompok teater baik yang bermarkas di Bali maupun di luar Bali, dengan sendirinya membuktikan teater Bali tidak diam.

Pementasan  Peace 2, dengan mengangkat naskah Bila Malam Bertambah Malam yang juga ada dalam bentuk novel dengan judul serupa karya Putu Wijaya.

Aktrasi panggung malam itu menyuguhkan kisah kehidupan  yang akrab terdengar di tatanan keluarga di Bali, antara orang berkasta tinggi dengan orang biasa.    Dikisahkan ada seorang janda tua bernama Gusti Biang yang gila dengan kebangsawanannya. Dalam setiap pembicaraannya ia selalu memuja kebangsawanan yang dimilikinya.

Selain itu, perempuan ini juga selalu membanggakan suaminya I Gusti Ngurah Ketut Mantri yang dianggapnya sebagai pahlawan. Di puri peninggalan suaminya ia tinggal dengan dua orang penyeroan yakni Nyoman Neti dan Bapa Wayan.

Namun sikap Gusti Biang terhadap Nyoman Neti selalu tak bersahabat dan saat akan memberi obat, Nyoman Neti dikatakan ingin membunuh dirinya. Gusti biang memiliki seorang putra yang bernama Tu Ngurah yang bersekolah di luar daerah dan telah bertunangan dengan Nyoman Neti tanpa sepengetahuan Gusti Biang.

Saat diketahui mereka menjalin hubungan, Gusti Biang tidak terima dikarenakan Nyoman berkasta rendah atau kasta sudra.Dan menjelang akhir cerita semua penghuni puri diusir oleh Gusti Biang termasuk ia juga bermaksud mengusir anaknya sendiri karena tak mau mengikuti kemauannya.

Namun, Bapa Wayan berkata jujur kepada semua anggota puri dengan mengatakan bahwa suami Gusti Biang bukanlah pahlawan melainkan seorang penghianat. Bapa Wayan juga mengatakan jika suami Gusti Biang adalah seorang wangdu atau impoten.

“Walaupun Gusti Ngurah memiliki 15 istri, namun itu adalah cara untuk menutupi kewangduannya. Dan semua tugasnya sebagai seorang suami saya yang menjalankannya,” aku Bapa Wayan yang disambut riuh penonton yang memadati Ksirarnawa malam itu.

Bahkan, Tu Ngurah bukan anak dari hubungan I Gusti Ngurah Ketut Mantri dengan Gusti Biang, melainkan hasil dari hubungan gelap Bapa Wayan dengan Gusti Biang.

Sontak runtuhlah semua kebanggaan Gusti Biang terhadap kastanya, dan mengijinkan Tu Ngurah untuk menikahi Nyoman Neti.

Putu Wijaya, sutradara beken yang kini menetap di Jakarta merupakan pria asal Tabanan , sejak umur 18 tahun telah ia mengembara ke luar Bali.  Ia memiliki nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, sekarang akrab disapa Putu Wijaya,  penulis dan aktor yang lahir di Puri Anom Tabanan 11 April 1944. Dari pemikirannya  lahir ribuan karya sastra baik cerpen, novel, naskah drama, hingga naskah monolog.

Meski kondisinya dalam keadaan sakit, namun niat untuk menelorkan karya terus mengalir. Hebatnya, untuk menulis dia menggunakan handphone BlackBerry dan mengetik hanya menggunakan jempol kanannya saja. “Sehari setiap duduk saya selalu menulis. Saya bangun jam 3 pagi kadang jam 4 atau jam 5. Olahraga lalu menulis hanya dengan jempol ini saja,” ucap Putu  sambil menunjukkan jempol tangan kanannya.

Ia mengaku tidur kalau sudah mengantuk dan tidak pernah ‘main-main’ di tempat tidur saat siang. Menurutnya kalau menulis sambil tiduran akan membuat mata cepat rusak.Dulu sebelum sakit, sehari duduk dan mengetik dengan mesin tik, sehari ia bisa menulis hingga 40 halaman. “Sekarang 1 sampai 2 cerpen atau dua bab untuk novel perhari juga bisa satu naskah drama,” katanya.

Putu kini ia menetap di Jakarta sembari menulis dan memimpin Teater Mandiri. Walaupun lama tinggal di luar Bali, tapi ia merasa menjadi orang Bali. “Di Bali, rasanya terlalu jauh dengan Bali, dan baru keluar saya merasa jadi orang Bali, merasa di rumah ketika pergi, merasa dekat ketika jauh, dan merasa orang Indonesia saat di luar negeri,” imbuhnya.

Ia menambahkan karena lahir di Bali maka akan “terkutuk” jadi orang Bali walaupun ia berada di luar Bali. Putu juga mengatakan bahwa Bali bukan museum.

“Bali itu tradisional tapi modern, modern tapi tradisional. Karena Bali itu memiliki desa kala patra,” katanya.

Dan jika Bali itu berubah menyesuailan diri bukan berarti Bali itu hilang, karena Bali masih memiliki falsafah Tri Hita Karana.Beberapa kali ia menekankan, agar Bali jangan mau dianggap museum dan menurutnya perubahan itu biasa. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *