Thu. Dec 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Teater Agustus Beber Kesantunan Rahwana dan Kekonyolan Rama

Dalam sebuah pertunjukan sendratari, drama atau jenis seni lainnya biasa mengangkat Rahwana sebagai tokoh antagonis, yang kejam, rakus dan mengagungkan sifat-sifat kebatilan. Namun, berbeda halnya ketika seni pertunjukan itu disajikan Sanggar Teater Agustus, Kota Denpasar dalam ajang Festival Seni Bali Jani di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (31/10), semua itu berbanding terbalik. Drama ini membeberkan kesantunan Rahwana dan kekonyolan Rama.

Teater Agustus yang didukung 35 pemain itu mengangkat sosok Rahwana dari sisi berbeda dengan drama modern judul “Rahu”. Drama “Rahu” ini memutarbalikan hampir semua yang ada dalam Ramayana karya Walmiki. Rahwana menjadi tokoh protagonist, sedangkan Rama justru menjadi tokoh antagonis. Rahwana begitu dicintai rakyatnya, serta kemajuan seni sastra dn tata kota di negerinya menunjukan, Rahwana raja yang berwawasan dan mengagungkan peradaban.

Pesulis naskah sekaligus sutradara, Gus Martin mengatakan, kisah drama ini sengaja diangkat karena ingin menyelipkan pesan moral. Sebab, sekarang ini banyak sekali orang tampil bukan sebagai dirinya sendiri, munafik dan cenderung menyalahkan orang lain. “Karena itu, saya memasukan tokoh Joker yang membeberkan kemunafikan Rama, kabar hoak dan kelicikan Rama yang mengajak para wanara untuk membebesakan istrinya yang diculik Rahwana,” katanya.

Joker juga mengatakan Rama yang tidak setia, dengan membiarkan istrinya Dewi Sita menceburkan diri ke dalam api. Mestinya Rama yang memiliki kesaktian itu bisa mencegahnya, namun tak dilakukannya. Rama juga diam-diam membuh Subali untuk membela Sugria. Semua itu kemunafikan Rama yang dibeberka Sang Joker. Tokoh Joker itu bertutur tentang Rahwana yang sesungguhnya bukan raja yang lalim dan tak beradad, melainkan raja yang santun.

Gus Martin mengatakan, kisah Drama Rahu terinspirasi dari buku Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto (2006) yang mengedepankan Rahwana dan kwsatria Alengka (dari suku bangsa Rakhsa) sebagai pahlawan-pahlawan yang gagah berani mempertahankan negerinya dari serangan para aggressor kulit putih. Disisi lain para pendatang yang diwakili oleh Rama dan bala tentaranya dikisahkan melakukan sebagai keculasan agar bisa menguasai pribumi.

Rahwana diceritakan sebagai raja yang sangat dicintai rakyatnya. Julukannya, sebagai Dasamuka merupakan penggambaran dari sepuluh cabang ilmu pengetahuan yang dikuasainya, seperti seni, kedokteran, astronomi, arstitektur, ilmu perang, tata kota hingga negarawan. “Sebagai catatan pelengkap, buku Rahuvana Tattwa yang menjadi acuan inspiratif drama “Rahu” ini menggunakan referensi atau daftar pustaka sejumalh lebih dari 40 judul buku yang semuanya berbobot,” ungkapnya.

Dalam rangka merekonstruksi kisah Ramayana, lanjut Gus Martin penulis buku ini tidak asal membongkar-balikan fakta, melainkan telah melakukan studi yang sangat mendalam. “Hal inilah yang kemudian menguatkan niat Sanggar teater Agustus mengangkat kisah Rahwana dalam versi berbeda,” tutupnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian