Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Oratorium Mekotekan Desa Munggu, Sanggar Naraswari Dance Creation, Kec. Mengwi, Duta Kabupaten Badung. Panggung Terbuka Ardha Chandra, Taman Budaya Bali – Senin 1 Juli 2019, 19.30 wita.

Makotek, Dari Tradisi Merambah ke Panggung Seni

Sejumlah kayu pulet setinggi dua setengah meter dimainkan pemuda Desa Munggu di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar Senin malam (01/07). Kini, tradisi itu tak hanya sebatas ritual enam bulan sekali, bahkan kini telah merambah panggung seni.

Panggung seni setidaknya di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 menerimanya sebagai sebuah edukasi dan hiburan bagi masyarakat. Hiburan itu dikemas dalam ‘Oratorium Makotekan Desa Munggu” yang mengangkat sejarah awal mula tradisi Makotek di desa Munggu. Ceritanya, bermula dari kisah kemenangan I Gusti Agung Alangkajeng yang berhasil merebut kembali wilayah Blambangan dari Raja Mataram, maka lahirlah tradisi Ngerebeg – Makotek atau yang lebih akrab dengan sebutan Makotek. Pada masa lalu, Raja Buleleng Ki Panji Sakti telah menyerahkan daerah Blambangan kepada Raja Mengwi dan diberi gelar Cokorda Sakti Blambangan. Dalam perjalanannya, Raja Mataram yang sempat menguasai wilayah Blambangan tidak dapat menerima hal itu dan memutuskan untuk membangun biduk kerja sama dengan Kompeni (persekutuan Belanda) untuk merebut kembali wilayah Blambangan sehingga berhasil mendapatkan kembali wilayah itu. Melihat kondisi itu, I Gusti Agung Alangkajeng yang bergelar Cokorda Munggu berusaha merebut kembali wilayah yang telah diperolehnya dari Raja Buleleng itu bersama pasukan tangguh Taruna Munggu. Keberhasilan itulah yang membuat Taruna Munggu merayakannya dengan sebuah sambutan bernama Ngerebeg-Makotek dengan mengangkat tombak setinggi-tingginya bersama pasukan lainnya. Hingga kini Makotek pun tetap lestari sebagai sebuah tradisi yang dilakukan setiap enam bulan sekali pada Kuningan.

Kali ini, tradisi Makotek yang telah terdaftar dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sebagai warisan budaya tak benda hadir dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. “Memang mekotek ini pernah kita angkat dalam pawai PKB, sekarang dalam fragmentari,” terang Ida Bagus Anom Bhasma selaku Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung. Bagi Bhasma, dipentaskannya makotek dalam panggung seni adalah bentuk perwujudan semangat patriotisme di masyarakat yang masih terpelihara dalam era kekinian. Garapan yang dipentaskan pada Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar ini berlangsung seru dan meriah. Pada klimaks garapan, makotek sesungguhnya pun mengundang adrenalin penonton.

Sekitar belasan pemuda Desa Munggu yang tangguh memainkan kayu pule dengan gerakan searah dan penuh sorak sorai, hingga satu pemuda memanjat susunan kayu pule yang telah dibentuk oleh pemuda lainnya menjadi sebuah puncak yang amat tinggi. “Jujur setiap latihan gini ngeri saya, waktu latihan sempat ada yang jatuh cuman jatuhnya lentur dia,” kenang I Ketut Gede Narmada selaku koordinator garapan. Narmada pun mengungkapkan pernah pada satu waktu makotek tidak diadakan, seketika itu juga muncul grubug (bencana). Sejak itu tradisi makotek tak pernah absen di Desa Munggu, Mengwi, Badung. Dalam pelaksanaanya, sebelum tradisi makotek berlangsung, terlebih dahulu dilaksanakan sebuah ritual ngerebeg yang memundut sebuah pusaka tamiang gede. Kedepannya, tradisi makotek yang telah merambah panggung seni dapat menjadi sebuah tontonan bagi masyarakat luas guna memperkaya wawasan kebudayaan.