Thu. Dec 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Kisahkan Untung Surapati dan Budak Bali, Teater Selem Putih Pesankan Jaga NKRI

DENPASAR-Teater Selem Putih Singaraja menampilkan garapan teater ‘Untung Surapati’ di ajang Festival Seni Bali Jani 2019 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (28/10) malam. Dalam garapan itu, tidak hanya sosok Untung Surapati yang ditampilkan melainkan juga kondisi Indonesia terutama Bali yang dulu memasok ribuan budak dikirim ke Batavia. Penggarap pesankan agar masyarakat benar-benar menjaga keutuhan NKRI.

Putu Satria, sang sutradara, menjelaskan, garapan tersebut merupakan hasil pemikiran panjangnya tentang Untung Surapati. Putu Satria telah membaca sekian buku tentang Untung Surapati dan membaca tentang budak Bali yang dulu konon dikirim ribuan ke Batavia. Kedua cerita itu kemudian ‘dikawinkan’ dalam satu garapan.

“Saya terkejut juga karena Untung Surapati itu seorang budak dari Bali, yang saya kira tidak banyak kenal. Setelah membaca sekian buku tentang Surapati dan budak, lalu saya imajinasikan. Ada ruang-ruang terbuka dan saya jadikan ruang terbuka seperti ini. Saya berproses ada dua bulanan,” ujarnya ditemui usai pentas.

Putu Satria mengaku harus membaca banyak buku untuk mengetahui suasana waktu itu. Karena pada saat Untung Surapati bersama budak Bali lainnya dikirim ke Batavia, ketika itu raja-raja di tanah Jawa sedang tiarap, tidak berani pada VOC karena sudah terlanjur mengadakan suatu perjanjian. “Yang berani cuma Untung Surapati. Kita lihat Sultan Agung misalnya paling berani melawan VOC, tapi keturunannya ternyata sering berkolaborasi dengan VOC untuk menghancurkan Nusantara,” katanya.

“Kalau saya hubungkan dengan konteks kebangsaan saat ini, khusus untuk Bali, seorang budak saja bisa mengharumkan nama dan bisa berkontribusi pada perjalanan bangsa. Kenapa kita yang bukan budak, tidak bisa berbuat sesuatu untuk bangsa ini. Kedua, saya ingin mengatakan bahwa NKRI ini dibentuk cukup lama, jadi tolong kita jaga erat bersama-sama,” sambungnya.

Proses penggarapan selama dua bulan diakuinya sempat mengalami kendala, yakni waktu pentasnya bertepatan dengan Rahina Tilem. Sehingga dalam proses itu, Putu Satria sempat mengganti tiga pemain utama. Kendala kesibukan masing-masing juga menjadi tantangan tersendiri untuk memanage waktu latihan. “Sempat terganggu proses penggarapannya karena saya lupa jadwal pentas ternyata bertepatan dengan Rahina Tilem. Sehingga ada pergantian pemain. Ada tiga pemain utama yang harus saya ganti, karena mereka tidak bisa main. Selain itu kendalanya juga karena kami masing-masing kerja,” ungkap Satria.

Salah satu pemain luar teater yang digaet adalah April Artison yang tinggal di Klungkung. Satria merasa April cocok menampilkan karakter Susan, nona Belanda dalam garapan Untung Surapati itu. “Saya sudah kenal April dari lama. Saya pilih dia karena wajahnya bisa mendekati karakter tokoh yang diperankannya. Selain itu, karena saya memiliki pemain yang terbatas,” tambahnya.

Terkait pelaksanaan Festival Seni Bali Jani, Putu Satria berharap dievaluasi lagi dan dilakukan pembenahan-pembenahan. Misalnya saja dalam mengkondisikan penonton. Menurutnya, dalam manajemen pertunjukan, sisi penonton harus ada yang menggarap. “Kalau kesenian tradisional, itu bisa dimainkan di pura atau di manapun. Wayang Cenk Blonk misalnya, tidak usah diundang orang akan datang. Kalau kesenian modern, penontonnya harus benar-benar digarap. Istilahnya ‘dididik’ bahwa ini yang namanya teater, ini namanya seni modern,” tandasnya.

Sementara itu, pemeran nona Belanda bernama Susan, April Artison, mengaku sempat terkendala jarak dan waktu saat menjalani proses latihan. “Banyak kendala yang saya hadapi. Teater Selem Putih ini kan berada di Singaraja, sedangkan saya sendiri tinggal di Klungkung. Jadi waktu latihan benar-benar terbentur oleh jarak. Saya dapat latihan bersama cuma lima kali,” tuturnya.

Kendala itu mengakibatkan April lebih banyak berlatih dan menghafal naskah sendiri di rumah dibantu oleh sang suami. Untuk lebih menghayati perannya, dia sampai harus banyak menonton film-film bertema Belanda. “Susan ini adalah orang Belanda, saya lebih banyak kayak nonton film-film Belanda, film pahlawan, agar tahu bagaimana logat Belanda. Saat latihan itu saya berusaha untuk cepat beradaptasi agar mendapatkan chemistry dan karakter dengan mereka,” tandasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian