Translate

February 27, 2024

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Kepopuleran Gamelan Bali di Mata Dunia, Dimulai Sejak 1928

DENPASAR – Ajang Bali World Culture Celebration (BWCC) menjadi rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022. Pada Jumat (24/6), rangkaian BWCC dilanjutkan dengan Dialog Budaya bertajuk “Balinese Gamelan on Global Stage” yang dilaksanakan secara daring dari Kantor Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali. Dalam dialog tersebut terungkap, Gamelan Bali telah mewarnai dinamika perkembangan musik dunia dan menghiasi panggung global. Hingga belakangan ini, setidaknya ada 500 perangkat gamelan di Amerika Serikat, dan lebih dari 100 lainya tersebar di Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Jepang, Australia, dan kawasan Asia Tenggara.

Dialog “Balinese Gamelan on Global Stage” menghadirkan tiga pembicara yang telah memiliki reputasi internasional, yakni Prof Dr I Made Bandem MA (Indonesia), Jody Diamond (Amerika Serikat), Prof Dr Shin Nakagawa (Jepang). Prof Bandem mengungkapkan, Gamelan Bali memiliki sejumlah keunggulan dan ciri khas dibanding instrumen musik lainnya. Dari sisi material, gamelan utama seperti gong gede atau gong kebyar dibuat dari bahan perunggu yang terbuat dari campuran timah putih dan tembaga dengan perbandingan 7 berbanding 3. Perpaduan tersebut menghasilkan suara unik di telinga orang yang mendengarnya.

“Ada beberapa keunikan yang dimiliki gamelan kita, dari suaranya, dari larasnya, dari teknik permainan juga, ngumbang ngisep, laki perempuan, semuanya terangkum dalam kebudayaan Bali di dalam gamelan,” ungkapnya.

Prof Bandem kemudian mengisahkan bagaimana perjalanan Gamelan Bali hingga dikenal dunia. Gamelan Bali mulai dikenal ketika pada tahun 1928 sudah ada rekaman-rekaman piringan hitam yang berisi suara gamelan-gamelan Bali, Janger, Gambuh, Kekawin, dan lain-lainnya yang direkam oleh perusahaan rekaman asal Jerman, Odeon dan Beka.

Setelahnya, gamelan Bali semakin populer di luar negeri melalui pameran-pameran, di mana salah satu yang terbesar yakni pameran di Prancis pada tahun 1931 yang kemudian membuat gamelan Bali jadi ikut mempengaruhi perkembangan musik dan teater barat. Kepopuleran Gamelan Bali kian bergema kala ada misi kebudayaan pasca Indonesia merdeka. Tahun 1952 misalnya, Sekaa Gong Peliatan, Ubud pentas Gamelan Bali di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

“Pada tahun 1986 bahkan sudah ada perumusan mengenai gamelan Bali di luar negeri. Gamelan Bali menjadi fokus pembahasan pada perhelatan First International Gamelan Festival di Vancouver Kanada. Pada saat itu dirumuskan enam karakteristik utama gamelan Bali, antara lain memanfaatkan ansambel untuk memainkan gubahan baru yang diwarnai musik kontemporer barat, mengembangkannya bersama instrumen baru seraya memainkan komposisi baru yang bersumber pada komposisi tradisional, merancang dan mengembangkan instrumentasi, orkestrasi, dan bebunyian baru untuk komposisi gamelan bergenre avant-garde,” ungkap Prof Bandem.

Semakin populernya gamelan Bali di dunia juga didukung dengan masuknya gamelan Bali pada kurikulum pendidikan tinggi, khususnya di kampus-kampus Amerika Serikat. Dikembangkannya studi musikologi di sana, menyebabkan gamelan Bali semakin dikenal publik di luar negeri. Mereka pada akhirnya tidak saja belajar memainkan gamelan Bali seperti layaknya dimainkan di Pulau Dewata, namun mengembangkannya dengan memadukan dengan konsep musik yang mereka miliki sebelumnya.

Prof Bandem pun berharap seiring bertambahnya popularitas gamelan Bali di dunia, ada kebijakan dari pemerintah untuk membina warga asing yang berminat belajar Gamelan Bali, dengan cara mengirimkan guru atau grup kesenian dari Bali ke luar negeri. “Mereka harus tahu filosofi gamelan Bali, harus tahu gamelan Bali, harus tahu keindahannya. Hal ini juga sebagai bagian dari visi menjadikan Bali sebagai pusat kebudayaan dunia,” kata Prof Bandem.

Sementara itu, pembicara dari Amerika Serikat, Jody Diamond membeberkan bahwa orang asing yang pertama ingin belajar gamelan Bali selalu berharap bisa memainkan gamelan Bali seperti orang di Bali memainkannya. Akan tetapi, menurut pria yang pertama kali menjejakkan kaki di Pulau Dewata pada tahun 1961 itu, setelah puluhan tahun gamelan Bali dikenal luas, timbullah pemikiran orang asing untuk mengombinasikan dengan konsep musik yang sebelumnya telah mereka miliki.*