Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Jegog, Sanggar Suar Agung, Kabupaten Jembrana. Depan Gedung Kriya, Taman Budaya Bali – Minggu 7 Juli 2019, 19.30 wita.

Hangatnya Nostalgia Jegog Suar Agung

“Kalau saya tahu dulu dia jadi anggota seni penari saya ikut jadi penabuhnya, cuma ketemunya belakangan, makasi ya,” rayu Gubernur Bali, I Wayan Koster pada sang istri Putri Suastini Koster seusai menarikan Tari Makepung bersama Sanggar Suar Agung di depan Gedung Kriya, Taman Budaya, Denpasar, Minggu malam (7/7).

Semua berbaur dengan hangat, mengingat-ingat memori bersama Sanggar Suar Agung yang akhirnya dituangkan dalam sebuah reuni nan hangat. Malam itu di depan Gedung Kriya, Taman Budaya, Denpasar, Sanggar Suar Agung yang sudah melanglang buana dengan alat musik Jegog ini menghibur seluruh elemen masyarakat yang menyaksikan pementasannya. Sanggar yang pertama kali hidup di daerah Jembrana ini didirikan oleh Alm. I Ketut Suwentra dan dibesarkan oleh sang istri Nyoman Hatsuko. Kini, I Gede Oka Arta Negara, putra dari I Ketut Suwentra dan Nyoman Hatsuko bertugas memegang tampuk keberlanjutan Sanggar Suar Agung dan berhasil menghidupkan kenangan yang telah terpendam selama 25 tahun. “Ini memang awalnya diangkat dari kenangan-kenangan bersama seniman Suar Agung dimasa lalu dan muncul ide untuk menyatukan mereka,” ungkap Oka yang kini tinggal di California, Amerika Serikat.

Tak sulit menyatukan para seniman itu. Berkat bantuan media sosial Oka pun berhasil mengumpulkan mereka dan berlatih bersama. Sehingga, segalanya pun terbukti dengan kehadiran para penampil yang sudah berumur namun masih aktif untuk menari dan menabuh. Seluruh penampilan tampak memukau, namun kehadiran Putri Suastini Koster yang ikut menarikan Tari Makepung menyedot perhatian masyarakat. Tak sedikit yang tertawa sekaligus kagum akan aksi istri Gubernur Bali ini. “Saya itu gabung di era 80 an, itu tahun 84 jadi awalnya saya beda sendiri, yang lain sekolah seni, saya justru ekonomi,” terang Putri sembari bernostalgia. Putri yang tak dapat menyembunyikan raut bahagianya pun mengaku senang dapat terlibat dalam pementasan ini. Tak hanya Putri, para seniman Jegog Suar Agung lainnya pun juga berbahagia akan momen temu kangen nan menarik itu. Dalam pementasan yang berlangsung hingga menjelang pukul 10 malam itu terdiri atas garapan apik Sanggar Suar Agung. Garapan apik tersebut diantaranya Tabuh Teruntungan Dharma Hyang, Tari Putri Bambu, Tabuh Dharma Kusuma, Tari Suar Agung, Tari Makepung, Tabuh Mebarung, Tabuh Kreasi Pengungkab Sabda, dan Tari Pringgraha.

Melihat garapan semalam, bukan hanya para penampil yang bernostalgia. Beberapa penonton yang sudah tamapk uzur pun merasa terhibur akan penampilan para seniman sebaya mereka. Istri dari Alm. I Ketut Suwentra, yakni Nyoman Hatsuko tak dapat menyembunyikan rasa haru dan kerinduannya akan Jegog Suar Agung dimasa lampau yang dibangun oleh sang suami. Kala sesi foto bersama, Hatsuko tak dapat menahan rasa harunya dengan menangis dan terduduk di belakang sembari ditenangkan oleh para penari. Pertunjukkan nostalgia ini ditutup dengan perbincangan santai para penampil baik dengan sanak keluarga maupun sahabat. Begitu pula Hatsuko, yang mengelus bingkai foto yang terdapat foto sang suami (Alm. I Ketut Suwentra) seolah mengungkapkan kerinduannya akan sosok seniman luar biasa sebagai pelestari kesenian Jegog khas Jembrana hingga mendunia.

Tantangan Melatih Pemula

Tak selamanya para penabuh yang terlibat dalam Parade Gong Kebyar Wanita dari kalangan yang akrab dengan dunia tabuh. Hal itulah yang menjadi tantangan bagi Made Ananda Wangsa. Ananda yang menjadi pelatih Gong Kebyar Wanita dari Sekaa Gong Cempaka Sari, Banjar Metra Kaja, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku, Bangli ini melatih wanita dewasa yang sama sekali tidak memiliki pengalaman menabuh gamelan adalah sebuah tantangan yang berujung kegembiraan. “Saya sadari kami masih kalah diteknik karena ini baru-baru bisa, tapi untuk ukuran baru bisa saya sudah bangga dengan mereka,” ungkap Ananda. Bangli hadir dengan Tari Margapati dan Tari Kreasi Sunari yang memeriahkan Parade Gong Kebyar Wanita yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, Minggu malam (7/7). Penampil sebelumnya berasal dari Kabupaten Karangasem yang menampilkan Tari Panji Semirang dan Tari Kreasi Tepak Sangku. Menurut Ratih Mahayanti selaku gerong (penyanyi) dalam Sekaa Gong Kebyar Wanita Putri Widya Suara Garini, Desa Pertima, Karangasem ini mengaku dirinya juga baru belakangan ini mempelajari seni tarik suara khas Bali. “Dulunya suka nyanyi biasa di kamar mandi, terus karena tertarik dan kebetulan ada kesempatan jadi saya terus belajar,” ujar Ratih sembari bergurau. Kedepannya, Ratih pun berharap agar dengan diadakannya Parade Gong Kebyar Wanita dapat ditemukan sosok-sosok penerus yang cakap dalam melestarikan kesenian tradisi khas Bali (*).