Tue. Nov 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Dramatari Gambuh, Desa Tumbak Bayuh, Kec. Mengwi, Duta Kabupaten Badung

Gambuh Tumpak Bayuh

            Gambuh disebut sebagai induk seni di Bali. Di Bali ada tiga sentra gambuh yang terkenal. Ketiganya, Gambuh Pedungan (Denpasar), Gambuh Batuan (Gianyar) dan Gambuh Padangaji (Karangasem). Tetapi gambuh tidak hanya di tiga daerah itu. Gambuh juga ada di desa Tumpak Bayuh.

            Menurut kordinator seni gambuh Br. Dangin Sema, desa Tumpak Bayuh, Mengwi, Badung, Jero Dalang Nyoman Sudana, seni gambuh telah lama berkembang di desanya.”Jadi gambuh yang kami sungsung di desa kami sudah lama sekali ada. Sudah sejak tahun 1700 an. Jadi ini sudah warisan leluhur sejak jaman dulu,” terang Sudana.  Menurut Sudana gambuh di desanya selalu dipentaskan secara rutin di pura Desa. Sehingga selalu ada regenerasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selama ini semangat dari anak-anak mulai SD, SMP hingga SMA tergolong aktif belajar gambuh. “Intinya semangatnya ada untuk menggeluti kesenian gambuh ini. Termasuk teruna-teruni, tetua dan krama banjar, untuk sementara baik baik saja lancar lancar saja,” ujar Sudana.  Itu diakui penari gambuh remaja dari desa Tumpak Bayuh, I Putu Dipa Permana (15). “Menari sudah lama, sudah sejak kelas lima. Pertama ke pura dulu ngayah, diajarin, awalnya nggak bisa nari tapi lama-kelamaan mau dan bisa,” aku Dipa Permana.

Selama ini masih menurut Sudana, masyarakat di banjarnya tetap berusaha melestarikan secara tradisional apa yang ada dalam gambuh. “Tarian gambuh itu sebenarnya polos. Tariannya polos, malah susah untuk ditiru, kami berusaha untuk melestarikan. Seperti nada gamelannya juga kami berusaha pertahankan apa adanya. Tak ada perubahan melodinya juga segitu-segitu aja,” papar Sudana. Sudana mengatakan untuk tampil di Pesta Kesenian Bali, gambuh dari banjarnya sudah empat kali tampil. Jika digabung dengan parade menjadi enam kali.

Pada pementasan kali ini, lakon yang dimainkan Gambuh Tumpak Bayuh adalah lakon ‘Prabu Erlangga”. “Biasanya kan cerita yang dimainkan itu Tebek Jaran, Mbuh Amat. Karena keduanya itu sudah sering kami pentaskan di masyarakat, jadi kami coba untuk judulnya baru, tetep berdasarkan sejarah dan babad tentang Prabu Erlangga yang bertahta di Kahuripan, Medang Kamulan, Jawa Timur,” jelas Sudana yang biasanya memerankan dua tokoh yaitu tokoh Arya di sebuah kerajaan dan tokoh Panji atau raja muda.

Menurut Sudana ada dua harapan yang perlu perhatikan. Pertama, masyarakat Bali jangan cepat-cepat beralih ke kesenian baru yang belum tentu lebih bagus dan lebih berkualitas.  Seni apapun itu wajib dinikmati oleh masyarakat Bali. “Saling mengimbangi, ketika kita jenuh dengan kesenian tradisional, kita beralih ke kesenian modern itu tidak apa-apa dan begitu sebaliknya,” harap Sudana. Tidak hanya itu, Sudana berharap rekontruksi seni tetap perlu dilakukan secara rutin. “Saya pun sebagai seniman masih banyak jenis kesenian yang belum saya ketahui dan saya lihat tetapi dipentaskan di PKB,” ucap Sudana (*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *