Tue. Nov 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Bali Puisi Musik Sajikan Puisi Soal Kritik

Bali Puisi Musik memiliki penggemar yang fanatik. Lihat saja, ketika tampil di Gedung Ksirarnawa dalam ajang Festival Seni Bali Jani, Senin (4/11) grup puisi music di Kota Denpasar ini mampu menyulap ruang pentas yang awalnya sepi menjadi lebih ramai. Setiap puisi yang dilantunkan, pengunjung yang didominasi generasi milenial itu terus saja berdatangan. “Kami suka dengan gaya Bali Puisi Musik dalam menyajikan puisi music. Mereka tak hanya piawai mengaransemen puisi, tetapi lugas juga dala menyampaikannya,” kata Putri, seorang siswa SMA di Denpasar.

Saat itu, Bali Puisi Musik yang didukung lima personil, seperti Kariasa, Indrawan, Yande Subawa, Dek Ong, dan Tan Lioe Ie itu menampilkan 8 buah puisi yang semuanya sarat kritik. Puisi itu Siapakah Kau, Malam Cahaya Lampion, Cokung Tik, Eksositem, Abad yang Luka, Negeri Apung, Kunang-kunang Musim Gugur, Malam di Pantai Candidasa. “Kami memang band, karena memang kecintaaan kami. Panitia mungkin membayangkan kami anplak, tidak membayangkan band. Tidak apa-apa, kami sisihkan dari penghasilan, demi kepuasan kami tampil diajang Festival Seni Bali Jani kali pertama ini,” kata Tan Lioe Ie usai pementasan.

Dalam festival yang mengangkat tema Hulu-Teben, Dialektika Lokal-Global, Tan Lioe Ie tidak memilih puisi secara khusus. Ia menyajikan puisi-puisi dengan mengatur, puisi yang perlu energy banyak dan puisi yang agak kalem. Walau demikian, masing-masing puisi memiliki pesan yang sangat beragama. Ada tentang social kritik, ada kemanusiaan, dan ada renungan spiritul. “Saya menciptakan puisi hamper semuanya menyampaikan pesan,” tegasnya.

Misalnya dalam Puisi Negeri Apung itu menampilkan social kritik. Di sana ada kata, kau naga linglung dengan bisa lunglai, menjauhlah menjaulah dari kemudi, biar cahaya membasuhmu, atau sebelum tangan campak menghancurkanmu. “Itu sesungguhnya saya tulis untuk Pak Harto sebelum reformasi. Saya membayangkan beliau seperti naga simbol kaesar china yang berkuasa penuh. Tetapi, seminggu setelah saya baca puisi itu, tenyarta Pak Harto lengser,” paparnya.

Sementara puisi Kunang-kunang musim gugur juga menyampaikan social krititk yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Puisi itu mangajak orang merenung. Idenya lahir dari mitos jaman dulu, yang mengatakan bahwa kunang-kunang itu berasal dari kuku orang mati. “Saya mengatakan, kau yang menulis sejarah, berapa kunang-kunang lagi hendak kau cipta dari kuku si mati. Di bagian akhir saya bertanya, pemenang atau pecundang kah kau. Karena ukuran kematian menjadi kemenangan, maka semua orang bakal mati oleh waktu. Jadi apa ukuran kemenangan itu, jadi untuk apa harus membunuh,” tanyanya.

Namun, beda dengan Puisi ekosistem yang sangat sinis. Si penindas disuruhnya menjadi babi. “Saya mengambil dari mana-mana saja. Itu adegan ketika Yesus mengusir orang kemasukan iblis. Iblisnya itu diusir ke babi. Maka saya membayangkan orang yang menindas rakyat itu seperti babi, sarkasme dan sinis,” ucapnya.

Sementara Puisi Malam di Pantai Candidasa itu adalah perenungan hidup. Hal itu ditunjukan pada bait puisi, apakah kita ini seperti pasir yang diperaikan ombak, begitu kecil ditengah semesta ini, bagaiamana kita pasrah pada akhirnya saat angin menerbangkan pasir yang melekat pada diri, satu demi satu yang ke hening angin terakhir,. “Itu renungan perjalanan hidup dari awal. Semua manusia mengawali itu. Sekarangkan bagaimana perjalanan hidup itu dibuat indah,” tutupnya. (*)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *