Translate

May 24, 2024

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Aksi Bermain Api dan Melahap Kepala Babi Warnai Dramatari Cupak Duta Gianyar

DENPASAR – Sanggar Eka Dharma Kanti, Lingkungan Kaja Kauh, Kelurahan Abianbase, Duta Kabupaten Gianyar menampilkan kesenian Dramatari Cupak dalam memeriahkan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, Senin (4/7/2022). Dramatari dengan lakon “Cupak ke Suarga” itu menjadi tontonan menarik bagi penonton, karena diwarnai aksi bermain api dan rakusnya tokoh cupak melahap kepala babi. Konon, ada taksu Ratu Cupak yang masuk ke tubuh si penari sehingga bisa melakukan hal-hal seperti itu.

Pementasan yang berlangsung lebih dari tiga jam itu benar-benar membuat penonton terjaga dan tak sabar menantikan aksi Sang Cupak. Termasuk Ketua TP PKK Provinsi Bali sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Nyonya Putri Suastini Koster yang didampingi Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani juga mengikuti jalan ceritanya hingga tuntas. Ketika tokoh Cupak hadir di panggung, aksi makan yang rakus yang dilakukan benar tak dibuat-buat. Satu kepala babi dimakan habis dengan rakus. Selain itu, Sang Cupak juga dengan kaki telanjang bermain api yang disediakan di luar kalangan.

Koordinator pementasan, AA Gede Ngurah Agung mengungkapkan, pihaknya memilih dramatari Cupak untuk ditampilkan karena ingin menampilkan sesuatu yang beda. Pihaknya pun ingin agar dramatari Cupak ini bisa dikenal lebih luas lagi oleh masyarakat.

“Dalam dramatari cupak, ada unsur magisnya, ada juga unsur lucunya. Itu yang membedakan dengan dramatari yang lain. Kalau dramatari biasanya mengandalkan lucu saja, kemudian menyampaikan cerita dan tattwa. Sedangkan dramatari cupak ini, selain ada unsur magis, karakter cupak yang rakus, makannya banyak, itu memang terlihat secara nyata selama pementasan,” ungkapnya.

Ngurah Agung melanjutkan, untuk penari Cupak merupakan seorang pengayah Nari Cupak dari salah satu pura di Desa Kerta, Payangan. Kata dia, selama pentas konon taksu Ratu Cupak memang merasuki raga si penari. Sehingga melakukan sesuatu di luar batas manusia normal seperti makan dengan cepat dan tak merasakan sakit saat bermain api. Menurut Ngurah Agung, penari Cupak adalah orang-orang terpilih (mundut).

“Jadi si penari ini mengundang taksunya Ratu Cupak itu biar masuk ke dirinya. Kalau orang normal tidak mungkin dia bisa seperti itu. Bahkan pada penampilan di luar PKB, ketika panggungnya beralaskan tanah, makanan itu bisa dicampur di tanah itu, lalu dimakan. Saya pernah tanya sama dia, memang kelihatannya dia makan, tapi di tenggorokannya sudah diambil,” ungkapnya.

Meski lebih menonjolkan karakter Cupak, namun dramatari tersebut tetap mengambil lakon yang berkaitan dengan tema “Danu Kerthi Huluning Amreta, Memuliakan Air Sebagai Sumber Kehidupan”. Banyak pesan yang ditampilkan seperti jangan mengotori sumber-sumber air, karena jika sumber air tercemar, maka kehidupan manusia pun akan terganggu. “Tetap kita sesuaikan dengan tema PKB Danu Kerthi. Pesan yang ingin disampaikan adalah sebagai manusia dan masyarakat supaya bisa memanfaatkan air yang secara baik,” katanya. Selain mempertontonkan karakter cupak, pada akhir pementasan Sang Cupak juga memberikan pengelukatan kepada beberapa penonton yang memiliki kelahiran Anggara Kliwon.*