Translate

EnglishIndonesian
October 6, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Workshop pembuatan Kincir Angin

Lilin Kecil Untuk Sunari

 “Pindekan ini masih  ada, sedangkan sunari ini sudah langka,” tutur Anak Agung Gde Raka. Namun, menurut budayawan yang sudah uzur ini, Workshop Pembuatan Sunari dapat diibaratkan sebagai lilin kecil untuk sunari sebagai lokal genius Bali.

Pelaksanaan Workshop Pembuatan Kincir Angin atau Sunari sebagai rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 adalah sebuah lilin kecil untuk menyinari keberadaan sunari yang kian redup terkubur globalisasi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu sore (3/7) bertempat di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar cukup banyak menyedot perhatian masyarakat Bali. Mengundang Ida Bagus Panji Yasa seorang seniman sunari sebagai pembicara dan Anak Agung Gde Raka sebagai moderator membuat acara ini semakin hidup. Sebagai moderator Raka cukup pandai dalam menggiring masyarakat untuk bertanya agar lebih memahami esensi sunari. Workshop yang dimulai pada pukul 14.00 wita ini memang erat kaitannya dengan tema PKB yakni Bayu Pramana. “Tema bayu itu kan angin berarti kita memberdayakan sumber daya angin dan salah satunya dengan kegiatan ini,” jelas Raka.

Sunari yang merupakan kincir angin bernafas Bali berfungsi sebagai media kegiatan keagamaan Hindu dalam upacara memungkah. Saat generasi seniman sunari terancam tiada, acara ini pun diharapkan dapat membangkitkan sunari sebagai kearifan lokal Bali. Sehingga bagi Raka, sudah saatnya sepuh seperti dirinya dan Ida Bagus Panji Yasa untuk ‘jemput bola’ mengingatkan anak muda. “Sebagai orang tua kita mengingatkan putra-putri kita, di tengah-tengah remaja disibukkan dengan gadget ingatkan dia dengan tradisi,” tutur Raka. Panji yang menjadi narasumber turut mendemonstrasikan pembuatan sunari kepada peserta workshop. Salah satu peserta workshop yakni Anak Agung Ketut Diatmika berujar, dirinya memang mengincar untuk hadir dalam workshop ini. “Sebagai orang Bali yang tinggal di rantauan, saya memiliki kewajiban untuk menjaga kebudayaan Bali dimana pun saya tinggal,” ucap Diatmika. Pria yang tinggal di Ibu Kota Jakarta ini pun kerap kali dipercaya berdharma wacana untuk umat Hindu di Jakarta. Diatmika pun mengharapkan dengan adanya workshop ini dapat membangun kesadaran bersama menjaga kelestarian sunari dan kearifan lokal Bali lainnya.