Sat. Oct 31st, 2020

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

UPTD. MUSEUM BALI : WALIANG OLEH SANGGAR MEKAR BHUANA

Le Mayeur sang pelukis dan Ni Polok sang penari – apa yang telah menyatukan kedua insan beda negara ini untuk menghasilkan sebuah keterarikan satu dengan yang lain? Keindahan alam, budaya dan nilai-nilai seni yang begitu kaya dimiliki oleh Bali telah menjadi penghubung dari cinta yang menyatukan kedua insan yang akhirnya memilih untuk hidup bersama. Menyemayamkan cinta mereka di pesisir pantai Sanur, yang kini menjadi satu-satunya tempat yang melindungi kisah mereka yang telah banyak menginspirasi. Meninggalkan goresan-goresan bentuk dan warna nan indah yang kini tinggal kenangan dalam Museum Le Mayeur. Le Mayeur dan Ni Polok bukanlah satu-satunya kisah cinta beda negara yang disatukan oleh keindahan alam dan budaya Bali. Kisah cinta ini akan tetap muncul selama keindahan alam dan seni budayanya Bali selalu dijaga dan dirawat. Seiring berjalannya waktu nilai-nilai luhur tradisi dan kebiasaan yang baik mulai ditinggalkan demi kepraktisan gaya hidup modern. Orang Bali tidak lagi menikmati proses ataupun berhenti sejenak untuk menjadi bagian dari proses tersebut. Kita tidak lagi memiliki waktu untuk menikmati proses menanam, memelihara dan menjaga. Karena waktu adalah uang, karena waktu sudah dipakai untuk urusan perut, atau ini hanya alasan? Akhirnya apa yang terjadi? Kerusakan alam, sampah plastik hasil konsumsi praktis menggunung dimana-mana, tanpa kita tahu bagaimana cara mengelolanya. Udara untuk masa depan generasi sudah kita racuni dengan membakar demi jalan singkat. Lahan-lahan kosong dan pantai sudah dipenuhi ceceran sampah plastik. Masihkah kita bisa mencintai Bali? Masihkah kita bisa mengembalikan nilai-nilai tradisi leluhur yang telah ada, untuk merawat alam dan seni budaya? Waliang yang berarti kembalikan adalah sebuah ajakan untuk masyarakat Bali. Ajakan agar kembali mengingat nilai-nilai tradisi leluhur, dalam sebuah pementasan visual dan karya kostum tari legong, yang dibuat dari memanfaatkan saset bekas kemasan kopi instant. Bagaimana sebuah keindahan tari yang tadinya hanya berhiaskan bahan alami sebagai persembahan dan rasa syukur atas hasil alam, kini telah tergeser dengan kreasi yang tercipta dari bahan hasil konsumsi yang tidak dapat didaur ulang. Waliang menampilkan kekontrasan yang terinspirasi dari masa kini dan juga masa lalu, yang diwujudkan melalui berbagai suara-suara melodi, dentuman gamelan golongan kuno dan klasik yang menjadi tradisi peninggalan Bali jaman dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian