Sat. Oct 31st, 2020

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

UPTD. MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI : “NYELIKSIK BULU” OLEH SANGGAR SENI SUNARI BAJRA

Nyeliksik bulu dalam karya ini lebih dimaknai sebagai upaya penyadaran kepada masyarakat melalui unggahan sastra local jenius di tengah – tengah masih banyaknya masyarakat yang belum sadar akan bahaya penyebaran Virus Covid – 19. Begitu gencarnya pemerintah membuat aturan, mengedukasi, menghimbau dan memberikan sosialisasi akan pentingnya menuruti protocol kesehatan dalam menghadapi bahayanya virus corona. Namun masih ada masyarakat yang tidak mengikuti protocol kesehatan tersebut.

Bertolak dari hal itu, kami Sanggar Seni Sunari Bajra mencoba membuat karya pertunjukan seni berbasis virtual dengan mengangkat sastra dan cerita seperti :

  1. Wira Carita Baratha Yudha yaitu Senopati Salya

Ketika Prabhu Salya diangkat sebagai senopati oleh pihak Korawa, Prabhu Salya mengeluarkan ajian pamungkas yaitu ajian Candra Bhirawa. Seketika itu para prajurit mengerang kesakitan kemudian tewas mengenaskan tanpa tahu penyebabnya karena musuh tidak terlihat. Anehnya, ajian Candra Bhirawa tidak hanya memakan korban dari pihak pandawa saja, melainkan prajurit Korawa pun terkena wabah itu. Melihat keadaan itu Prabhu Krsna mendekati Prabhu Yudistira dan memerintah Yudistira untuk turun ke medan laga menghadapi Prabhu Salya. Awalnya Yudistira menolak, namun setelah diberi anugerah dapat melihat kekejaman ajian Candra Bhirawa milik sang Salya, maka Yudistira pun mau namun tidak bersemangat dan penuh keraguan. Singkat cerita, setelah melepas Cakra Bagaskara milik Krsna, senjata itu menembus dada Prabhu  Salya dan akhirnya gugur. Seketika itu pula ajian Candra Bhirawa yang berupa raksasa cebol menghilang dan prajurit pun selamat.

Makna yang dapat dipetik dari sastra ini dalam hubungannya dengan penanggulangan Covid – 19 adalah :

  • Covid – 19 hanya dapat dikalahkan bilamana masyarakat dapat berprilaku yang disimbolkan oleh Yudistira yaitu :
  1. Selalu bersikap tenang dan sabar, tidak panic
  2. Konsekuen terhadap kebenaran, jujur, dan iklas
  3. Selalu mengikuti pola hidup bersih Skala Niskala
  4. Selalu tunduk dan dekat dengan Tuhan
  5. Ada pula cerita dari mulut ke mulut terutama dari orang tua yaitu cerita tentang Naga Ananta Bhoga. Setiap 100 tahun sekali Naga Ananta Bhoga yang bertugas menjaga Bumi melakukan yoga (Mekules). Ketika mekules / beryoga, kulesnya Naga Ananta Bhoga berterbangan kesana – kemari dan menimbulakan bahaya yang dapat menjadi sebab kematian, maka terjadilah wabah penyakit yaitu Grubug Gumi. Menurut pengalantaka Wariga Bali, masa beryoga Naga Ananta Bhoga yaitu 100 tahun bertepatan tahun menuju ekornya 20 seperti tahun 1820, tahun 1920, tahun 2020 mulai dari sasih ke 6 (kenem), puncaknya sasih ke 9 (kesanga) mulai hidup sasih ke 10 (kedasa) dan sempurna kembali sasih 12 (kesada). Sebagai bukti pada tahun 1981 – 1921 sempat ada wabah pandemic Virus Influenza Spanyol yang melanda kawasan Hindia Belanda yang memakan korban tak tehitung jumlahnya. Makna yang dapat diambil dari ceita ini adalah :
  6. Tetap diam dirumah jangan keluyuran karena penyelamat yang menjaga kita sedang beryoga, sehingga diluar rumah yang ada adalah Bhuta Kala (penyakit).
  7. Dari hitungan Pengalantaka, sasih 1 (kasa) Naga Ananta Bhoga mulai bertugas menjaga Bumi dan mengusir wabah (Bhuta Kala) dari alam ini, jadi sasih kasa itu bertepatan dengan bulan Juli dalam kelnder masehi.

Demikian inti cerita karya seni pertunjukan virtual oleh Sanggar Seni Sunari Bajra Singaraja, dengan pola garap gaya bebondresan. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian