Thu. Dec 12th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Lagu Daerah Bali Duta Kota DENPASAR. 9 Juli 2019

Parade Lagu Daerah Bali Jangan Hanya Rutinitas

Gegap gempita alunan musik menyatu dengan senandung merdu penyanyi berbahasa Bali yang menghibur penonton. Parade Lagu Daerah Bali yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar , Selasa malam (9/7) akankah dapat mengakar?

Bukan tanpa alasan mengapa setiap tahunnya Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja senantiasa mengisi rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB). Hakikatnya, dengan dilaksanakannya parade ini mampu memperkenalkan sekaligus mengakarkan lagu pop Bali. “Padahal visi misinya supaya tahu lagu pop Bali itu kayak gimana sih, sayang sekali ini baru sebatas rutinitas,” tutur Ketut Sumerjana kritis. Sumerjana yang merupakan salah satu Tim Pengamat Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja mengaku bahwa sampai saat ini belum ada upaya lebih lanjut untuk mengeksiskan lagu pop Bali baik secara nasional maupun internasional. Pria yang kesehariannya menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ini juga mengungkapkan pada parade terdahulu dirinya dan tim sempat mengajukan untuk memperjelas bentuk karya selepas parade ini. “Sempat kita ajukan untuk memperjelas bentuk karya dalam parade ini ya agar dialbumkan dan dapat  mendarah daging di masyarakat tapi ya belum berhasil,” terang Sumerjata pasrah.

Ketidak berhasilan dalam rencana produksi lagu-lagu yang dinyanyikan dalam parade ini kepada pemerintah lantaran alasan klise yakni soal pendanaan. Sayang beribu sayang apabila perhelatan akbar ini hanya sebatas rutinitas tanpa sebuah keberlanjutan. “Tidak hanya parade ini saja, parade lainnya di PKB pun juga berhak diramu kembali bentuk karyanya, minimal album digital-lah,” usul Sumerjaya. Media sosial tak cukup untuk memperkenalkan karya para seniman yang sungguh berbakat ini, sebab yang terpenting dalam sebuah karya seni adalah hak cipta. Hari pertama Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja menampilkan empat kabupaten/kota yang memukau penonton. Dengan ciri khasnya masing-masing, keempat kabupaten/kota tersebut yakni Gianyar, Badung, Buleleng, dan Denpasar, mengemas dengan apik lagu anak-anak daerah Bali yang mulai jarang diperdengarkan. Penampil pertama datang dari Sanggar Giri Anyar, Banjar Celuk, Desa Buruan, Blahbatuh, Gianyar dengan membawakan lagu Ratu Anom, Guak Maling, Made Cenik sebagai lagu gabungan, disusul dengan lagu bertajuk Melayangan, Tresna Sehidup Semati (Lagu Komersil), Kebo Iwa (Lagu Ciptaan Sendiri), dan Sasih Kawulu (Lagu Wajib).

Sebagai penampil kedua, Sanggar Eka Mahardika, Abiansemal sebagai Duta Kabupaten Badung membawakan lagu bertajuk Meme sebagai lagu anak-anak, Made Cenik, Pulsinoge, Ketut Garing sebagai lagu gabungan, dan dilanjutkan dengan lagu bertajuk Bungan Jepun, Baleganjur, Sasih Kaulu. Selepas ke selatan, penonton pun diajak menuju Bali Utara yakni Demores Rumah Musik Singaraja, Desa Pemaron, Buleleng. Dengan lagu yang dibawakan diantaranya Lila Cita, lagu gabungan Janger, Don Dap dappe, Dija Bulane, lalu berlanjut dengan lagu Spirit Truna Jaya, Sasih Kaulu, dan Lagu Luu. Terakhir, Denpasar yang diwakili oleh Sanggar Musik Catur Muka Swara membawakan lagu Jempiring Putih, Ratu Anom, Made Cenik, Kaki Jenggot Uban (Lagu Gabungan), Pindekan Pakubon, Sasih Kaulu, dan Toh Langkir. Seluruh penampil tampak luar biasa dengan keterampilan layaknya penyanyi profesional. Sayangnya, ada saja hal-hal teknis yang mengganggu pementasan seperti mikrofone yang tiba-tiba berdengung. Kabupaten lainnya seperti Jembrana, Klungkung, Tabanan, dan Bangli akan tampil pada hari kedua Parade Lagu Daerah Bali Anak-anak dan Remaja yakni tanggal 10 Juli 2019 bertempat di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar (*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian