Translate

EnglishIndonesian
August 16, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Cerita Komunitas Manubada Tampilkan Rejang Danu Kerthi dan Baris Bala Samar. Menari di Alam Untuk Mendapatkan Spirit Karya

DENPASAR – Komunitas Manubada, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar menampilkan kesenian Tari dan Tabuh iringan Selonding serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIV Tahun 2022 di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Rabu (29/6/2022). Menariknya, Komunitas Manubada menggunakan properti dari alam seperti keraras, andong, busung kering, daun ambu, serta kendi-kendi dari tanah liat. Begitu juga berutuk, tapel yang belum dicat, bahkan penari pun hampir semua bermake-up natural, hanya bermodalkan pamor.

Bukan tanpa alasan. Menurut koordinator pementasan, Komang Adi Pranata, penggunaan properti tersebut lantaran mengalami kejenuhan ketika memakai properti yang mewah dan ‘ngejreng’. Selain itu, mereka menilai sebuah feel yang hidup ketika memakai benda-benda dari alam. “Kami di Komunitas Manubada ini sudah 8 tahun dan hampir setiap hari berproses dan berkarya secara bersama-sama. Ada sebuah monoton yang kita rasakan ketika berbusana glamor, meriah. Lalu kita terpikir kenapa kita tidak coba menggunakan bahan-bahan yang disediakan alam saja? Mungkin bagi orang lain, properti kami terkesan sederhana dan tidak bermodal. Akan tetapi, justru saya mendapatkan energinya di situ. Karena semua properti ini hidup, berasal dari alam,” ungkapnya.

Pada sajian pembuka, Komunitas Manubada menampilkan sebuah karya instrumental berjudul “Hening” yang mengisahkan danau adalah satu tempat yang digunakan menenangkan diri bagi beberapa orang, ketenangan air danau juga dapat membantu orang menghilangkan penat dari aktifitas sehari-hari. Karya ini dibuat dengan metode observasi ke danau Batur dan Bedugul. Karya instrumental ini berupaya mengkemas gaya klasik selonding dengan tetap menggunakan teknik gegebug dan ciri khas permainan selonding yang sudah ada dan dikembangkan ke dalam bentuk karya yang baru dengan penambahan instrument suling dan gegendingan dari gerong yang mendukung kesan dan suasana yang diinginkan.

Setelah sajian “Hening”, Komunitas Manubada juga menampilkan dua garapan tari berjudul “Rejang Danu Kerthi” dan “Tari Baris Bala Samar”. Kedua tari ini, termasuk garapan selonding, kata Adi Pranata, melalui proses merespon dan mengeksplorasi alam. Mereka melakukan penjelajahan dan observasi ke berbagai tempat untuk mendapatkan energi atau spirit dengan berkesenian langsung di alam yang akan dituangkan ke dalam karya.

“Beberapa tahun terakhir, sejak pandemi, kami mencoba untuk merespon dan mengeksplorasi alam. Bahkan penjelajahannya kita menari langsung di alam, seperti di danau, di sawah, pesisir pantai, pegunungan perbukitan. Sebab pandemi kemarin membuat kami benar-benar stuck. Akhirnya kita membuat sebuah rekam jejak untuk bisa mengeluarkan uneg-uneg dan permasalahan kita, ya kita menarinya di alam,” terangnya.

Tari Rejang Danu Kerthi misalnya. Mereka melakukan observasi ke Ulundanu Batur untuk mendapatkan energi dan mood di sana. Tari Rejang Danu Kerthi merupakan sebuat project kompanye untuk edukasi menjaga keasrian danau (air) sebagai sumber kehidupan di muka bumi ini. Bentuk visual karya ini menggunakan pendekatan karya tari persembahan (ritual) rerejangan. Karya ini juga menjadi sebuah karya tari persembahan pemujaan terhadap air dan Dewi Danu serta menjadikan pementasan ini sebagai sarana hiburan bagi semesta yang menikmati sajian persembahan yadnya melalui gerak tari yang indah dan tulus.

“Tari Rejang Danu Kerthi ini saya ibaratkan sebagai hiburan untuk Dewi Danu dan juga alam semesta. Yang mana selama ini kita sudah banyak menikmati alam, tapi kadang lupa berterimakasih. Dengan adanya Rejang Danu Kerthi ini memberikan sebuah pesan bahwa persembahan tak sekedar sarana upakara, tetapi juga bisa berupa gerak-gerak yang indah dan ritmis yang dinikmati oleh semesta, terutama untuk Dewi Danu,” kata Adi Pranata.

Sedangkan Tari Bala Samar, kata Adi Pranata, terinspirasi saat dirinya ikut prosesi Ngerebeg d wilayah Tegalalang, Gianyar tahun 2021. Saat itu, dia sempat mengambil peran sebagai wong samar. Eka Pranata pun mengaku energi mahluk-mahluk tak terlihat itu memang dirasakan hadir saat prosesi Ngerebeg. Yang mana mahluk-mahluk halus tersebut hidup berdampingan dengan alam, bahkan memiliki peran sebagai penjaga alam.

“Bala Samar ini merupakan tokoh fiksi temuan saya dalam berimajinasi saat penggarapan karya. Saya mengibaratkan di sebuah sungai itu ada penghuninya, penjaganya. Kita tidak boleh nakal, ngawur, semena-mena, karena Bali kan tenget. Ada sebuah pesan koservasi di situ. Hadirlah karya Bala Samar ini. Mereka (mahluk halus) yang menjaga, mereka yang mengkonservasi wilayah itu agar kita manusia tetap ingat untuk menjaga alam,” paparnya.

Bahkan Eka Pranata mengaku untuk menciptakan Tari Baris Bala Samar, pihaknya dan kawan-kawan sampai melakukan penjelajahan ke tegalan demi mendapatkan energi dan mood yang akan dimasukkan ke dalam karya. Tari Baris Bala Samar ini sebelumnya sudah dipentaskan di Denpasar Festival (Denfest) dengan formulasi yang lebih sederhana. “Saat di Denfest penarinya 4 orang, sekarang berkembang jadi 7 orang. Kami ingin karya ini suatu saat bisa menjadi sebuah kesenian yang mentradisi, turun temurun, tidak hanya pentas sekali saja. Karena kami pakai untuk ngayah juga, sebagai simbol kami menghormati keberadaan Bala Samar ini,” pungkasnya.**