Translate

EnglishIndonesian
May 25, 2022

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

MPRB

 

LATAR BELAKANG DIDIRIKANNYA MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI

Perjuangan dalam merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda terjadi hampir di seluruh wilayah Republik Indonesia. Tekanan dan penindasan yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh pihak Belanda telah memunculkan berbagai pemberontakan  di beberapa wilayah kerajaan maupun kesultanan yang berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia. Namun dengan mudah pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh pihak Belanda dengan siasat devide et impera yaitu dengan memecah belah kekuatan kerajaan atau kesultanan dengan taktik mengadu domba diantara keluarga raja dengan raja, raja dengan rakyat, dan rakyat dengan rakyat.

Namun pengalaman perang yang cukup panjang serta semakin banyaknya pemuda Indonesia yang dapat mencapai pendidikan tinggi telah membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan dari berbagai lapisan masyarakat dan suku bangsa yang ada di Indonesia dalam mengusir penjajah. Persatuan dan kesatuan tersebut telah dirintis oleh para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, yang akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 dicetuskan dalam pernyataan Sumpah Pemuda. Pernyataan itu diikuti oleh organisasi pemuda dari berbagai pulau dan suku di Indonesia antara lain Jong Java, Jong Pasundan, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes (Sulawesi), Jong Madura, Jong Sumatranen, Jong Batak, telah melahirkan gagasan pembentukan Jong Indonesia yang mewadahi semua suku di Indonesia.

Gema Sumpah Pemuda tersebut telah membangkitkan pula berbagai organisasi kepemudaan di Indonesia. Salah satu organisasi terkenal antara lain adalah Sarekat Islam, yang semula sebagai gerakan agama semata, kemudian berkembang menjadi gerakan rakyat pertama di Indonesia, selanjutnya muncul juga partai Indische Partij yang bererak di bidang politik. Pada saat itu di pulau Jawa bermunculan tokoh-tokoh nasionalis seperti dr, Soetomo, HOS Cokroaminoto, Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantoro), Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Agus Salim, Soekarno, Muhammad Hatta, dan sebagainya. Kepeloporan mereka akhirnya juga memberikan inspirasi bagi daerah-daerah lain untuk berbuat yang sama yakni menggalang persatuan dan kesatuan dalam mengusir penjajahan Belanda, salah satunya adalah perjuangan yang dilakukan oleh rakyat Bali.

Pulau Bali merupakan salah satu basis perjuangan melawan Belanda, antara lain yang terkenal adalah Perang Jagaraga tahun 1848-1849 di Buleleng, Perang Kusamba tahun 1849, Perlawanan Rakyat Banjar tahun 1868, Perang Puputan Badung tahun 1906 yang dilancarkan oleh Raja Badung, Puputan Klungkung tahun 1908 dan juga Perang Puputan Margarana di Desa Marga, Tabanan yang dilakukan oleh Letkol I Gusti Ngurah Rai beserta Laskar Ciung Wanara yang telah melakukan perang habis-habisan (Puputan) melawan Belanda pada tahun 1946.

Perjuangan tersebut meninggalkan kenangan yang mendalam bagi rakyat Bali, sehingga untuk mengenang jasa-jasanya didirikanlah monumen, nama jalan, nama lapangan terbang, dan sebagainya. Pemberian penghargaan atas jasa Beliau tersebut semata-mata karena Beliau telah memberikan tauladan kepada generasi muda dalam perjuangan membela kemerdekaan yang dilakukan tanpa pamrih. Perhatian pemerintah terhadap jasa para pejuang di Bali diwujudkan dengan dibangunnya sebuah monumen agung yang berlokasi di area Niti Mandala, Denpasar dikenal dengan nama Monumen Perjuangan Rakyat Bali.

Apa yang disajikan di dalam monumen ini, adalah untuk mengenang kembali seluruh perjuangan para pahlawan Bali sebelum maupun setelah kemerdekaan, diharapkan pula bahwa monumen ini juga akan memberikan manfaat dalam upaya meningkatkan apresiasi generasi muda dalam menghayati nilai-nilai patriotik yang ditunjukkan oleh para pahlawan yang telah mengorbankan seluruh jiwa dan raganya dalam membela harga diri dan martabat bangsanya tanpa pernah mengharapkan balas jasa.

Yang membanggakan dari pembuatan desain Monumen Perjuangan Rakyat Bali ini adalah seorang generasi muda bernama Ida Bagus Gede Yadnya yang pada waktu itu statusnya masih mahasiswa pada jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana Denpasar. Beliau berhasil memenangkan dan menjadi juara dalam sayembara pembuatan desain Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang dilakukan pada tahun 1981 dengan menyisihkan para arsitek seniornya yang ada di Bali.

Setelah diadakan penyempurnaan rancangan dan gambar, pada bulan Agustus 1988 melalui anggaran Pemerintah Daerah Propinsi Bali dilakukan peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan monumen. Setelah melalui berbagai hambatan dan cobaan karena terjadi depresiasi uang Rupiah di tahun 1997, akhirnya monumen ini dapat diselesaikan juga pada tahun 2001. Setelah itu, pembanguan masih dilanjutkan dengan pembuatan diorama yang menggambarkan sejarah kehidupan orang Bali dari masa ke masa. Selain diorama juga dibangun pertamanan untuk menambah keasrian dan kenyamanan monumen ini, yang secara keseluruhan dapat diselesaikan pada tahun 2003.

Pada tanggal 14 Juni 2003, bersamaan dengan Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke- 25 tahun 2003, Presiden RI Megawati Soekarnoputri telah berkenan meresmikan Monumen Perjuangan Rakyat Bali. Sejak saat itu monumen telah dapat dikunjungi oleh masyarakat umum.

MAKSUD DAN TUJUAN  DIBANGUNNYA MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI

Maksud pembuatan diorama yang mengisahkan tentang perjuangan rakyat Bali adalah untuk merekonstruksi kembali peristiwa-peristiwa sejarah penting yang pernah terjadi di Bali, sehingga apa yang tersirat didalamnya akan lebih mudah diapresiasikan oleh generasi muda.

Tujuannya adalah untuk mengabadikan jiwa perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa dan mewariskan semangat patriotisme dalam wujud rela berkorban, cinta tanah air, cinta persatuan dan kesatuan, cinta perdamaian, kebersamaan kepada generasi penerus bangsa, dan yang utama adalah tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

DASAR FALSAFAH MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI

Monumen ini merupakan perwujudan dari Lingga dan Yoni. Lingga adalah Lambang Purusa (pria), sedangkan Yoni adalah Lambang Pradana (wanita). Pertemuan antara kedua unsur tersebut merupakan simbol kesuburan dan kesejahteraan. Selain falsafah Lingga-Yoni. Monumen ini juga dilandasi oleh falsafah kisah Pemutaran Mandara Giri (Gunung Mandara) di Ksirarnawa (Lautan Susu). Kisah ini bersumber dari Kitab Adi Parwa yaitu parwa pertama dari epos Mahabharata. Diceritakan bahwa para Dewa dan Daitya/Raksasa mencari Tirta Amertha (air kehidupan abadi) dengan jalan memutar Gunung Mandara di Ksirarnawa.

Adapun pelaksanaan pemutaran Gunung Mandara (Mandara Giri) diatur sebagai berikut.

  1. Kura- Kura (Akupa) sebagai Dasar Gunung Mandara.
  2. Naga Besuki sebagai Tali Pengikat dan Pemutar Gunung.
  3. Para Dewa memegang ekor naga dan para daitya memegang bagian kepala, sedangkan pada bagian atas dari gunung duduk Dewa Ciwa.

Setelah bekerja dengan susah payah memutar gunung mandara maka berturut-turut keluar: Ardha Candra (bulan sabit), Dewi Sri dan Laksmi, Kuda Ucaisrawah (kuda terbang), Kastuba Mani (pohon kebahagiaan), dan yang terakhir keluar Dewi Dhanwantari yang membawa Tirta Amertha. Kisah mencari air Amertha inilah yang kemudian direfleksikan pada wujud monumen ini, dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Guci Amertha disimbolkan dengan Swamba (periuk) yang terletak pada ujung atas monumen.
  2. Ekor Naga Basuki diwujudkan di dekat periuk.
  3. Kepala Naga diwujudkan pada Kori Agung.
  4. Bedawang Nala (Akupa) sebagai landasan monumen terletak pada pinggiran telaga dan kepalanya pada Kori Agung.
  5. Ksirarnawa (lautan susu) sebagai kolam yang mengelilingi monumen.
  6. Gunung Mandara (Mandara Giri) sebagai Bentuk keseluruhan bangunan monumen.

Secara filosofis, para penggagas monumen ini berkeinginan memberi pesan kepada generasi muda bahwa perjuangan untuk mencapai suatu keberhasilan hanya dapat dilakukan dengan kerja keras, tekun, ulet, dan gotong royong seperti yang dikisahkan ketika para Dewa dan Daitya secara bersama-sama mencari kehidupan abadi.

Lambang lain yang menggambarkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang terdapat dalam bangunan ini adalah denah bangunan yang berbentuk segi 8 dan bunga teratai yang berdaun delapan. Teratai berdaun delapan disebut Asta Dala sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Asta Aiswarya, yaitu:

  1. Anima :    sifat yang halus bagaikan kehalusan atom.
  2. Lagima :    sifat yang ringan bagaikan ether.
  3. Mahima :    sifat yang maha besar mengisi semua tempat.
  4. Prapti :    sifat mencapai segala tempat yang dikehendaki
  5. Prakamya :    segala kehendak tercapai olehNya.
  6. Isitawa :    sifat merajai segala-galanya dan paling utama.
  7. Wasitwa :    sifat yang paling berkuasa.
  8. Yatrakama Wasayitwa :    tidak dapat ditentang sifat dan kodratNya.

Lambang yang menggambarkan nilai kejuangan dan jiwa nasionalisme dari monumen ini adalah jumlah anak tangga Kori Agung (pintu utama) berjumlah 17 buah, Tiang Agung yang terdapat dalam gedung berjumlah 8 buah, dan tinggi monumen dari dasar sampai puncak 45 meter. Sehingga apabila angka-angka tersebut dirangkai, maka tersusun angka 17, 8 dan 45 yang menunjukkan tanggal, bulan dan tahun Proklamasi Kemerdekaan RI yaitu 17 Agustus 1945.

 

LOKASI MONUMEN PERJUANGAN RAKYAT BALI

Monumen Perjuangan Rakyat Bali dibangun di areal Niti Mandala Denpasar, di Lapangan Puputan Margarana yang luasnya 13,8 hektar. Luas bangunan 70 x 70 meter. Kawasan lokasi monumen merupakan pusat perkantoran Provinsi Bali. Adapun batas-batas lapangan Puputan Margarana, sebelah utara Jalan Basuki Rahmat, sebelah timur Jalan Ir. Haji Juanda, sebelah selatan Jalan Raya Puputan, sedangkan sebelah barat Jalan Prof. Dr. Kusumaatmadja.

 

 

 

THE BACKGROUND OF THE ESTABLISHMENT OF THE MONUMENT OF BALINESE STRUGGLE

Sporadic struggles for independence against the Dutch Colonial Government  emerged in most parts of Indonesia. The violent oppressions by the Dutch resulted  many rebellions in various dominions of kingdoms and sultanates under the Dutch colonialism. But unfortunately, the Dutch could easily suppress them by applying their divide et impera (divide and rule) tactic to break the strength of those kingdoms and sultanates by playing off against each other, between a king and the other, between the royal family and the king, the king and his people, and between people as well.

The long war experiences and also the more and more Indonesian youth got academic education had aroused the spirit of unity among various social strata and ethnic groups and the awareness to defend their country and to drive away the colonizers. It was initiated by a number of intellectual youths from various regions that on October 28th, 1928, for the firsttime, the Indonesian youth held a conference in which they declared the so called the Sumpah Pemuda or the Youth Pledge. They swore that they were of one mother country: Indonesia, one nationality: Indonesian, and of one language: Bahasa Indonesia or the Indonesian language. This declaration was simultaneously participated by many youth organizations from various islands and ethnics in Indonesia such as, Jong Java of Central and East Java, Jong Pasundan of West Java, Jong Minahasa of North Sulawesi, Jong Ambon of Maluku, Jong Celebes of Sulawesi, Jong Madura, Jong Sumatranen, Jong Batak of Batak ethnic group, etc which later on resulted an idea to form the Jong Indonesia to accomodate all ethnics in Indonesia.

This spirit of Sumpah Pemuda has also awakened various youth organizations in Indonesia.One well-known organization, among others, is Sarekat Islam, which was originally as a mere religious movement, then developed into the first popular movement in Indonesia, then the Indische Partij party which also moved in politics. At that time on the island of Java nationalist figures emerged such as dr. Soetomo, HOS. Cokroaminoto, Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantoro), Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, Agus Salim, Soekarno, Muhammad Hatta, and so on. Their pioneering work eventually also inspired other regions to do the same, namely to unite the regions in expelling the Dutch occupation, one of which was a struggle carried out by the Balinese people.

Bali Island is one of the bases of the struggle against the Dutch, among which the famous is the Jagaraga War of 1848-1849 in Buleleng, the Kusamba War of 1849, the Banjar People’s Resstance in 1868, the Puputan Badung War of 1906 launched by the King of Badung, Puputan Klungkung in 1908 and also the Puputan Margarana War in the Marga Village of Tabanan conducted by Liutenant Colonel I Gusti Ngurah Rai along with Laskar Ciung Wanara who had waged in all-out war (Puputan) against the Dutch in 1946.

The struggle performed by I Gusti Ngurah Rai has left deep memories for the people of Bali, so as to commemorate his services, a monument, street name, airport name, and so on were erected. The awarding of his services is solely because he has set an example to the younger generation in the struggle for independence which is done unconditionally. The government’s attention to the services of the fighters in Bali was realized by the construction of a grand monument located in the Niti Mandala area, Denpasar known as the the Monument of Balinese Struggle.

What is presented in this monument is to recall all the struggles of the Balinese heroes before and after independence. It is also hoped that this monument will also has some benefit in an effort to increase the appreciation of the younger generation in living up to the patriotic values demonstrated by the heroes who sacrifice all his body and soul in defending the dignity of his people without ever expecting retribution.

The monument was designed by Mr. Ida Bagus Gede Yadnya, a young man who was at that time was a student in the Department of Architecture, Faculty of Engineering, Udayana University, Denpasar. He succeeded in winning and becoming a champion in the design competition of the the Monument of Balinese Struggle which was carried out in 1981 by setting aside his senior architects in Bali.

After the design and drawing improvements were made, in August 1988 through the budget of the Provincial Government of Bali a groundbreaking was carried out, as a sign of the start of the construction of the monument. After going through various obstacles and trials due to the depreciation of the Rupiah in 1997, finally this monument could be completed also in 2001. After that, the development was continued with the making of dioramas that depicted the life history of the Balinese from time to time. In addition to the dioramas, a park was also built to add the beauty and comfort of this monument, which as a whole could be completed in 2003. On June 14, 2003, in conjunction with the Opening of the 25th Bali Arts Festival in 2003, Indonesian President Megawati Soekarnoputri had the pleasure of inaugurating the Monument of Balinese Struggle. Since then the monument has been officially opened for public.

PURPOSE AND OBJECTIVES

The purpose of making dioramas that tells a story of the struggle of the Balinese people is to reconstruct important historical events that have occured in Bali, so that what is implied in them will be more easily appreciated by younger generation.

The aim is to perpetuate the spirit of the struggle of the Balinese people from time to time and pass down the spirit of patriotism in the form of self-sacrifice, love of the motherland, love of unity and love of peace, togetherness to the next generation of the nation, and the main thing is to maintain the integrity of the Unitary Republic of Indonesia (Homeland).

THE PHILOSOPHICAL BASIC OF THE MONUMENT OF BALINESE STRUGGLE

This monument is an embodiment of lingga and yoni. Lingga is male symbol (purusa), while yoni is female symbol (pradana). The meeting between the two elements is a symbol of fertility and well-being. In addition to the Lingga-Yoni philosophy, this monument is also based on the philosophy of the Mandara mountain screening (Mandara Giri) in ocean of milk (Ksirarnawa). This story comes from the Adi Parwa book, the first chapter (parwa) of the Mahabarata epic. It is said that the gods and giants (daitya) sought the water of eternal life (tirtha amertha) by turning around Mandara mountain in the ocean of milk. The implementation of the screening of mount Mandara is regulated as follows:

  1. Turtles (akupa) as the base of mount Mandara
  2. Besuki Dragon (Naga Besuki) as a strap and turning mount.
  3. The gods hold the dragon’s tail and the daitya hold the head, while at the top of the mountain sits God Shiva.

After working with great difficulty turning the Mandara mountain then successively came out: crescent (Ardha Chandra), Goddess Sri and Laksmi, flying horse (kuda Ucaisrawah), tree of happiness (Kastuba Mani), and the last came out Goddess Dhanwantari who brought Tirta Amertha. The story of searching for Amertha water is then reflected in the shape of this monument, with the following explanation:

  1. The earthen pitcher containing tirta amertha was symbolized by a kind of pot (swamba), which is located on the top of the monument.
  2. Naga Besuki’s tail is realized near the pot.
  3. The head of the dragon is manifested in the entrance gate (Kori Agung).
  4. Turtle (Bedawang Nala/ akupa) as the foundation of the monument is located on the edge of the lake and its head on Kori Agung.
  5. The pond that surrounds the monument as the symbol of Ocean of milk (Ksirarnawa).
  6. Mandara mountain (Mandara Giri) as the overall shape of the monument building.

Philosophically, the initiators of this monument wish to give a message to the younger generation that the struggle to achieve success can only be done with hard work, perseverance, and mutual cooperation as told when the Gods and Daitya together seek eternal life.

Another symbol depicting the power of God Almighty (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) contained in this building is a building plan in the shape of an octagon and an eight-leaf lotus. The eight-leaf lotus is called Asta Dala as a symbol of the omnipotence of God Almighty called Asta Aiswarya, namely:

  1. Anima :    the mildness nature like atom.
  2. Lagima :    the lightness nature like ether.
  3. Mahima :    the great nature that fills all places.
  4. Prapti :    the nature of reaching all desired places.
  5. Prakamya :    all wills are achieved by Him.
  6. Isitawa :    the nature of dominating everything and the most important One.
  7. Wasitwa :    the most powerful character.
  8. Yatrakama Wasayitwa :    His nature and His will cannot be challenged.

The symbol of patriotism and nationalism can be found in the 17 number of foot steps towards the main entrance, 8 main pillars of the building and the height of the monument is 45 meters. If these figures are strung together, the numbers 17, 8, and 45 are arranged which show the date, month, and year of the Proclamation of Indonesian Independence, August 17, 1945.

THE LOCATION OF THE MONUMENT OF BALINESE STRUGGLE

The Monument of Balinese Struggle was built in the area of Niti Mandala Denpasar, on the Puputan Margarana field which covers 13.8 hectares, while the building area covers 70×70 meters square. There are four streets bordering the square, i.e. Basuki Rahmat street at the north, Ir. Juanda street at the east, Raya Puputan at the south and Kusumaatmadja street at the west. The entrance gate and at once the facade of the monument is located at its southern side or on the right side of Raya Puputan street.

 

 

 

Lokasi Monumen