Tue. Dec 1st, 2020

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Berbusana ke Pura Tak Harus Ribet dan Mahal. Tiga Jenis Kain Bali Punah

DENPASAR – Tak dipungkiri budaya penyederhanaan upacara mengakibatkan sejumlah jenis kain asli Bali mengalami kepunahan. Ada tiga jenis kain Bali yang kini dinyatakan punah, diantaranya kain jenis Wewali, Keling dan Bebali.

Hal tersebut diungkapkan Pakar Busana Bali A.A Ngr. Anom Mayun.K. Tenaya, dalam Kriyaloka (Workshop) Busana Adat ke Pura, di Kalangan Angsoka Taman Budaya, Denpasar, Kamis (12/3).

Ngurah Mayun yang juga dosen  Prodi Fashion Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini mengatakan ada 10 jenis kain Bali yang khas.  Ada jenis bebali, keling, wali, endek, cepuk, gringsing, songket, prada, cecawangan. ” Jenis bebali, wewali dan keling saat ini sudah tidak ditemukan lagi atau  alami kepunahan, kain kain itu ada dari Tengenan, Nusa Penida, sebagian beaar Bali Mula, ” jelas  Agung Mayun.

Lebih lanjut diungkapkan, keberadaan kain Bali sangat erat kaitanya dengan budaya tata cara upacara di Bali. ” Punahnya kain – kain asli Bali akibat dari budaya masyarakat sendiri seperti penyederhanaan upakara, yang biasanya menggunakan kain – kain sakral, akhirnya ditiadakan, ” ungkapnya.

Sementara itu, terkait busana adat ke Pura, Ngurah Mayun menyatakan sekarang kalau mau ke Pura sudah ada himbauan, dan tak harus ribet dan mahal asalkan mau belajar dan latihan.   Bagi yang wanita tidak boleh menggunakan kebaya pendek, harus panjang. Begitupun menggunakan kain, jangan menggunakan kain yang dijarit,  itu namanya rok.” Jelas tidak boleh berbusana menggunakan  kain dijarit seperti rok ke Pura, dan saat ini kita mengajak  cara menggunakan busana yang rapi, beretika dan sederhana kepada generasi muda, tak harus ribet dan mahal,” terang Dosen yang kini sedang menempuh S3 yang meneliti berbagai jenis kain khas Bali itu.

Dijelaskan trend fashion yang dibawa oleh media saat ini demi tuntutan berpenampilan trendi, modis dan meniru kalangan selebretis dijadikan sumber rujukan berbusana. Persoalanya, sebagai rujukan dari trend fashion ini tidak cocok diterapkan bagi masyarakat Bali, khususnya sebagai rujukan busana ke Pura. Padahal dalam awig-awig atau pakem berbusana sudah ada. Pakem busana adat Bali warisan leluhur dirasa sudah lengkap, karena sudah mempertimbangkan unsur – unsur estetika dan etika. ” Prinsip berbusana adat Bali memenuhi Triangga, Wesa, nyasa, Purwadaksina dan Prasawiya,” tandasnya.

Dijelaskan, Triangga menata busana berdasarkan kosmologi Hindu, struktur busana mulai kepala, badan hingga kaki. Sedangkan wesa dimaknai status dalam fase kehidupan, busana anak, dewasa atau orang tua. Sementara purwodaksina dan prasawiya merupakan konsep berbusana seperti kain yang dililitkan di tubuh pria atau wanita. Kalau wastra pria dililitkan searah jarum jam, sedangkan wanita sebaliknya kain dililitkan berlawan arah jarum jam.

Dalam workshop yang diikuti duta kabupaten se Bali itu juga dipraktekan menggunakan busana ke Pura bagi pria dan wanita yang baik dan benar.

Selaku Kabid Kesenian dan Tenaga Kebudayaan Propinsi Bali, Ni Wayan Sulastriani menyatakan dengan digelarnya workshop busana adat ke Pura, harapanya agar ada satu persamaan pandangan dalam mengaplikasikan pakem berbusana di Bali.” Jenis kain, model atau kekhasan dari masing – masing kabupaten beragam, tapi tata cara menggunakan busana yang baik masih banyak yang keliru, melalui workshop ini kita berharap akan dapat disosialiasikan oleh masing masing kabupaten kota di Bali sehingga generasi kita di Bali paham menggunakan busana yang beretika,” kata Sulastriani.

Sulatriani menambahkan, melalui workshop ini diharapkan  para duta kabupaten kota dapat mempersiapkan diri untuk ajang Pesta Kesenian Bali ( PKB) ke 42 yang akan datang. ” Untuk busana tetap akan diparadekan, dan diikuti seluruh kabupaten kota di Bali,” pungkasnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate

EnglishIndonesian