Tue. Aug 20th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Kolaborasi Gamelan Jawa – Bali dan Ramayana Ballet, partisipasi The Art and Culture of Indonesia (ARCINDA) Colorado, Amerika Serikat. Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Bali – Sabtu 13 Juli 2019, 17.00 wita.

ARCINDA, Satu Dekade Memboyong Kesenian Jawa ke Amerika

Semakin jauh kita pergi, itulah membuat kita rindu rumah (tanah air). Merantau di negeri Paman Sam tak menyurutkan semangat mereka untuk melestarikan seni tradisi Indonesia dan kembali menampilkannya di tanah air.

Para penampil adalah orang Indonesia tulen. Hanya satu saja orang Amerika yang diboyong untuk turut tampil pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. Para penampil yang menyajikan kesenian khas Jawa tergabung dalam sebuah lembaga kesenian The Art and Culture of Indonesia (ARCINDA), yang bermarkas di Colorado, Amerika Serikat. Pada Sabtu sore (13/7) bertempat di Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar para pengunjung yang lalu lalang dihentikan langkahnya oleh suara gamelan khas Jawa yang memanjakan telinga. Pengunjung pun betah berdiam lama menikmati alunan gamelan Kebo Giro yang dituangkan sebagai penyambutan untuk tamu, Gugur Gunung adalah instrumen gamelan yang bertemakan gotong royong untuk menyelesaikan pekejaaan, dan gamelan Udan Mas bermakna sebagai pemberian rejeki melalui istilah hujan emas. Tak hanya itu, ARCINDA turut memadukan seni tradisi dan modernisasi dengan mengemas lagu Gambang Suling dan Jali-Jali yang dengan apik.

ARCINDA yang kini telah berusia sepuluh tahun adalah lembaga kesenian non-profit yang dikelola oleh Arni Purwaningsih Pelletier. “Misi kami mengenalkan kebudayaan Indonesia khususnya Jawa di Amerika dan siapa saja boleh bergabung, orang dari kebangsaan mana saja,” jelas Arni. Turut serta memeriahkan PKB ke-41 adalah anugerah tersendiri bagi Arni sebagai peringatan sepuluh tahun usia ARCINDA dan perayaan 70 tahun kerjasama Indonesia dengan Amerika. Wanita yang telah 25 tahun tinggal di Amerika itu mengaku bahwa niat untuk mendirikan ARCINDA karena didikan sang ayah. “Bapak saya memang senang tradisi dan budaya jadi memang mendidik anak-anak untuk mencintai hal itu,” terang Arni. Bermula dari mendapat beasiswa ke Amerika dari sanalah Arni menetap, berkeluarga, dan mengobati rasa rindu akan tanah air dengan mendirikan ARCINDA.

            Ketika langit sore semakin larut, akhirnya ARCINDA membawakan garapan pamungkas yakni Sendratari Ramayana bernasafkan Jawa. Diantara ketujuh bagian kisah Ramayana, kali ini bagian Hanoman Duta menjadi pilihan sekaligus judul garapan. Ciat, ciat adegan Rahwana bertempur dengan Rama membangkitkan semangat yang mulai layu menjelang malam. Hanoman yang merupakan wujud seekor kera nan sakti melompat-lompat dengan lincahnya hingga menyambangi para penonton. Garapan ini pun disukseskan pula oleh beberapa pembimbing gamelan dan tarian diantaranya Saptono, Wayan Sudirana, Adiyanto, Baghawan Ciptoning, dan Anggara Wisnu. Tak mudah untuk mempertahankan ARCINDA hingga berusia satu dekade. Butuh kerja keras dan pengorbanan untuk mempertahankan apa yang telah dibangun. “Suami saya orang Amerika dia bilang kalau angkut gamelan kayak kerja rodi, karena ditanggung sendiri,” terang Arni dengan senyum tipis. Meski demikian, Arni dan para anggota ARCINDA tak payah untuk memegang erat tradisi bernafas Jawa sebagai pegangan di negeri Amerika (*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian