Tue. Aug 20th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Joged Bumbung, Sekaa Joged Asta Kumala, Br. Bet Ngandang, Desa Sanur Kauh, Kec. Denpasar Selatan, Duta Kota Denpasar. Kalangan Madya Mandala, Taman Budaya Bali – Jumat 12 Juli 2019, 17.00 wita.

Joged Bumbung Tak Harus Erotis

Joged bumbung sebagai seni tradisi kerakyatan sempat tercoreng namanya. Tercoreng oleh aksi joged erotis yang sempat viral di media social. Walau begitu, Joged Bumbung tetap memikat. Tampilnya di Pesta Kesenian Bali (PKB) diharapkan mampu mengubah persepsi masyarakat tentang joged bumbung.

Persepsi masyarakat selama ini tari joged cenderung erotis. Padahal tari joged bumbung tak harus selalu tampil erotis. “Hadirnya kembali Joged Bumbung Hasta Komala Br. Betngandang diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat (tari joged itu erotis –red) Bali terhadap tari joged bumbung yang telah berkembang lebih erotis,” tutut penata tabuh, I Wayan Sumendra yang selama ini berperan banyak dalam membina generasi muda untuk mengembangkan kembali joged bumbung di Br. Betngandang, desa adat Intaran, Sanur Kauh, kecamatan Denpasar Selatan, kota Denpasar.

Sejarah joged bumbung sendiri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1940 an.  Tarian ini adalah tarian pergaulan yang diciptakan petani-petani untuk menghibur dikala istirahat setelah bekerja di lumbung. Gambelan joged bumbung berupa sebuah barungan gambelan yang biasa disebut dengan gambelan Gerantangan. Disebut gambelan Gerantangan karena pokok instrumentnya adalah Gerantangan yaitu gender yang terbuat dari bambu berbentuk bamboo dan memakai laras slendro 5 (lima) nada. “Kalau joged bumbung di banjar Betngandang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950 an,” jelas Sumendra. Joged bumbung Br. Betngandang sangat terkenal. Sempat pentas di luar daerah  bahkan pentas di Istana Tampak Siring saat Presiden Sukarno dulu. Tetapi kemudian sempat vacuum dan baru bangkit lagi tahun 1988. Kemudian kemabli vacuum. Terakhir pada tahun 2011 kembali dibangkitkan.

Penampilan Joged Bumbung Hasta Komala Br. Betngandang di panggung Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar, Jumat sore (12/7) ini memikat ratusan penonton yang datang berkunjung ke Pesta Kesenian Bali ke 41. Sekaa joged bumbung ini menampilkan empat penari yang mempesona, diantaranya Ni Wayan Sri Antariani dan Ari Yunita. Ari Yunita sebagai penari terkahir tampil. Saat itu pengibing terakhir, Mangku Jagra sempat membuat joged bumbung ini agak berbeda. Selain menari ia sempat melantunkan lafal mirip dialog arja. Tak heran joged bumbung ini menjadi ada rasa ‘sepenggal dialog arja’. Beberapa nasehat menyerupakai nasehat di seni arja terlontar. “Yang pasti joged bumbung ini diharapkan tetap memiliki nilai-nilai budaya tinggi yang berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat local maupun wisatawan,” tutur Sumendra.

Wayang Tradisi Sembroli

Malam harinya, Jumat malam (12/7) di depan Gedung Kriya, Taman Budaya, Denpasar, berlangsung pementasan Wayang Tradisi Gaya Buleleng yang dipentaskan oleh Sanggar Seni Pedalangan Sembroli,  Br. Dinas Seraya, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, kabupaten Buleleng.

Wayang tradisi gaya Buleleng ini menampilkan dalang  Gusti Made Aryana yang membawakan lakon ‘Gugurnya Sang Kala Mandana’. Lakon ini menceritakan tentang menjelang persiapan perkawinan Abimanyu dengan Diah Utari di kerajaan Wirata. Saat itu terjadi kesalahpahaman diberbagai pihak hingga berujung terbunuhnya ‘Kala Mandana’. Wayang tradisi  gaya Buleleng berbeda dengan  gaya Sukawati dan gaya Badung. Perbedaan itu biasanya dapat dilihat dai bentuk wayang, olah vocal dalang dan gegenderan dan berbagai hal lain dalam pertunjukkan wayang kulit tradisi (*).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian