Tue. Aug 20th, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Sambutan Gubernur Bali

Om Swastiastu,

Pesta Kesenian Bali (PKB) menjadi event seni dan budaya bernilai sejarah yang tinggi. Telah berusia 41 tahun, dan telah menjadi bagian dari memori kolektif tidak saja Krama Bali, tetapi juga nasional dan dunia internasional. Setelah reformasi, hamper setiap tahun PKB dibuka resmi Presiden Republik Indonesia.

Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana 2018-2023, bervisi: Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang artinya menjaga kesucian dan keharmonisan Alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, secara sakala dan niskala, menuju kehidupan Krama dan Gumi Bali sesuai prinsip Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam Kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi dalam bingkai NKRI berdasar nilai-nilai Pancasila 1 Juni 1945. Hal ini bermakna pula, bahwa pembangunan Bali bertujuan membangun kesejahteraan dengan tetap menjaga integritas dan jatidiri Krama Bali. Hal fundamental yang akan dilakukan di antaranya, dengan memajukan Kebudayaan Bali baik yang bersifat sekala, maupun niskala, berhubungan dengan nilai, keluhuran, kesucian, dan keindahan.

Kita ketahui bersama, bahwa Pesta Kesenian Bali menjadi ruang aktualisasi segala nilai luhur dan indah dari seni dan budaya Bali. Maka dari pada itu, saya selaku Gubernur mengamanatkan Dinas Kebudayaan dan OPD terkait untuk berkomitmen dalam menjaga keajegan PKB, dengan tata kelola yang profesional.

Manajemen event yang konsekuen untuk menguatkan sekaligus memajukan seni dan budaya Bali dalam dimensi pelindungan dan pembinaan. Memayungi seni-seni sebunan, serta melestarikan pakem seni klasik dan tradisi. Pada tahun ini, PKB mengangkat tema “Bayu Pramana; Memuliakan Sumber Daya Angin”. Setiap unsur: pawai, pergelaran, pameran, workshop, sarasehan, dan lomba menerjemahkan secara fokus dan terintegrasi tema sentral tersebut. Mulai tahun ini, antara tema dengan isian acara mesti sinkron dan selaras. Tidak ada lagi, tema yang hanya menjadi pemanis saja, sementara isian acara tetap menoton dari tahun ke tahun. Maka dibutuhkan peran tim kreatif dan kurator yang bersinergi
dengan seniman, budayawan, dan masyarakat seni di seluruh Bali ini. Sehingga setiap tahun ada satu wacana, yang kemudian ditetapkan sebagai tema, kemudian diterjemahkan dalam komposisi, tata artistik, maupun kreteria seleksi jenis kesenian yang mesti tampil.

Mulai tahun ini pula, pada pameran PKB, baik stand kerajinan maupun kuliner akan dibebaskan dari pungutan biaya. Harapannya benar-benar yang tampil adalah produk kerajinan dan kuliner yang berkualitas tinggi, unik, dan indah. Peserta diseleksi, dan memang benar sebagai pelaku industri kreatif dari seluruh Bali. Sehingga pewujudan PKB sebagai pesta rakyat benar-benar menjadi kenyataan. Rakyat bersukacita dalam menyaksikan, menikmati, dan juga menampilkan capaian karya seni dan kerajinan terbaiknya.  Demikian beberapa hal yang dapat saya sampaikan, pada kesempatan yang baik ini pula, saya mengundang Krama Bali seluruh Bali, mari kita rayakan Pesta Kesenian Bali 2019 ini
dengan sukacita dan kreatif demi keajegan keluhuran seni dan budaya Bali yang kita cintai bersama.

Om Santih Santih Santih Om

GUBERNUR BALI,
WAYAN KOSTER

selengkapnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian