Penyerahan Penghargaan Pengabdi Seni - PKB XXXIX 2017

Selasa, 27 Juni 2017


Gubernur Serahkan Penghargaan Pengabdi Seni Kepada Sembilan Seniman

Pemerintah provinsi Bali memberi perhatian khusus pada seniman. Bentuknya beragam. Satu diantaranya berupa Penghargaan Pengabdi Seni. Mereka yang berhak mendapat penghargaan adalah seniman yang terbukti selama ini konsisten mengabdi pada seni.

            Sembilan seniman yang selama ini konsisten mengabdi kepada seni mendapat ‘Penghargaan Pengabdi Seni’ tahun 2017. Kesembilan seniman itu antara lain Ida Made Giur Dipta (bidang seni sastra /Karangasem), I Ketut Surata (seni sastra / Klungkung), I Nyoman Pudja, S.ST. M.Ag (seni tari / Bangli), Ni Wayan Ranten (seni tari arja / Gianyar, I Wayan Suweca S.SKar., M.Si (seni karawitan /Denpasar), Drs I Wayan Suwardaniyasa (seni tari / Badung), I Made Mundra (seni tari / Tabanan), Putu Sumardika (seni karawitan / Buleleng) dan  I Nengah Madia (seni sastra / Jembrana). “Pemerintah berupaya melestarikan seni budaya. Salah satunya dengan memberi penghargaan kepada seniman dan budayawan yang konsisten mengabdikan diri pada bidang seni budaya Bali,” tutur Gubernur Bali, Made Mangku Pastika saar menyerahkan  penghargaan pengabdi seni ini di Gedung Ksirarnawa Senin malam (26/6). Mangku Pastika berharap para penerima penghargaan pengabdi seni ini dapat menjadi teladan bagi generasi muda Bali.

Pada waktu yang bersamaan juga dipentaskan dua pementasan lainnya. Kedua pementasan itu yaitu drama gong  tingkat remaja dari sekaha drama gong Bandana Budaya Sari (duta Badung) di kalangan Ayodya. Kemudian pementasan musik kolaborasi dari Sanggar Puri Taman  Saba (duta Gianyar)

Sementara sorenya di kalangan Angsoka menampilkan dramatari Gambuh dari Sanggar Seni Satriya Lelana dari desa Batuan, Sukawati, Gianyar. Gambuh yang tampil merupakan garapan sanggar seni Satriya Laksana dengan lakon ‘Pranaraga’.

            Lakon Pranaraga mengangkat cerita dengan latar belakang setelah Raden Panji berhasil menyelamatkan kerajaan Gegelang dari serangan raja Kebalan. Raja Gegelang kemudian memberikan hadiah kerajaan Pranaraga. Rakyat kerajaan Pranaraga hidup tetram dan sejahtera. Rakyatpun mencintai sang raja, Raden Panji.

            Pada saat rakyat Pranaraga melaksanakan upacara ‘Puja Wisnu atau Ulun Danu’, datangalah raja Pamotan beserta pasukannya merusak jalannya upacara. Serangan ini sebagai balas dendam raja Pamotan karena Raden Panji mengalahkan raja Kebalan. Namun Reden Panji mampu mengalahkan raja Pamotan dan pasukannya. Upacara kembali dilaksanakan. Kerajaan Pranaraga mengalami kejayaan, aman, damai dan sejahtera.***