Penutupan Pesta Kesenian Bali XXXIX 2017

Minggu, 09 Juli 2017


Ribuan masyarakat Bali berdesak-desakan menyesaki panggung Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar yang berkapasitas tak kurang dari 6000 penonton. Mereka tetap antusias menonton dan mengapresiasi pementasan seni di Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIX 2017. Masyarakat antusias hingga akhir.


Suasana itu terasa di malam penutupan PKB, Sabtu malam (8/7) di panggung Ardha Candra. Hadir pada malam penutupan PKB diantaranya Ketua DPRD Bali, I Nyoman Adi Wiryatama, Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta (mewakili Gubernur Bali yang berhalangan hadir-red), Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta dan selaku tuan rumah, Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Drs. Dewa Putu Beratha, M.Si. Menurut Beratha, PKB telah menghadirkan hiburan yang mendidik bagi masyarakat. Selain itu masyarakat juga dapat menikmati pameran yang kreatif di stand-stand yang ada. Berbagai upaya untuk menghadirkan PKB yang lebih berkualitas telah dilakukan penyelenggara. “Diantaranya melengkapi sarana dan prasarana yang lebih berkualitas untuk menunjang pementasan, sehingga menghadirkan pementasan yang lebih menarik,” tutur Beratha. Pada kesempatan itu Beratha juga melaporkan bahwa ada peningkatan omzet yang bertransaksi di PKB XXXIX pada bidang pameran UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro).

Sudikerta mengaku bangga dengan kualitas penyelenggara PKB kali ini. Termasuk meningkatan omzet peserta pameran  di PKB bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Terlepas dari beberapa kekurangan, kita patut berbangga, karena PKB berjalan lancar,” ujar Sudikerta saat membacakan sambutan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika yang berhalangan hadir. Kelancaran ini  karena kerjasama seluruh seniman, penyelenggara dan karma Bali. Sudikerta menegaskan , PKB bukab hanya apresiasi berkesenian semata.  Tetapi lebih dari itu, PKB XXXIX ini sebagai wahana apresiasi keberagaman seni budaya. Bila dikaitkan dengan tema PKB XXXIX, ‘Ulun Danu’, maka seluruh subtansi pawai, pameran, pementasan. Lomba dan sarasehan telah mencerminkan tema PKB XXXIX.

Pada kesempatan itu Sudikerta sekaligus menutup secara resmi PKB XXXIX dengan menancapkan kayon. Usai penancapan kayon dilaksanakan, SMKN 3 Sukawati yang dulu lebih dikenal dengan kokar menampilkan sendratari dengan judul ‘Tirta Santika Buana’.  Lakon ini menceritakan tentang kekesalan pangeran Duryudana akibat penghinaan Ratna Drupadi saat peresmian  kerajaan Indrawiprasta. Duryudana dan adik-adiknya, penasehat kerajaan dan pasukannya memilih beristirahat di tepi sungai Gangga. Pasukan Duryudana kemudian bermain-main dan beraktivitas di sungai Gangga. Aktivitas itu menyebabkan sunga Gangga dan samudera tercemar. Dewi Gangga dan Dewa Baruna menjadi murka. Maka mereka  berdua menugaskan raksasa Kala Cakramaya untuk memberi pelajaran kepada Duryudana dab pasukannya. Raksasa Kala Cakramaya kemudian membuat pasukan Duryudana lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Seementara Duryudana dan adik-adiknya menemui Pandawa untuk meminta tolong. Bima yang mendengar cerita Duryudana dkk langsung berangkat ke sungai Gangga.


Pementasan lakon ‘Tirta Santika Buana’ menjadi penanda pementasan terakhir di PKB XXXIX. Walaupun begitu masyarakat Bali tidak perlu khawatir karena hiburan seni tetap ada di Taman Budaya, Denpasar secara berkelanjutan. Usai PKB, langsung menyambung pagelaran di kegiatan Bali Mandara Mahalango. “Bali Mandara Mahalango tahun ini yang keempat. Berlangsung mulai Minggu, 9 juli hingga tanggal 29 Agustus 2017. Event ini diikuti 23 sekaa atau komunitas,” terang Dewa Putu Beratha.

Sementara itu pada sore harinya, PKB XXXIX menampilkan pementasan partisipasi kesenian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Bangkalan, Jatim. Pementasan berlangsung di kalangan Ayodya (***)