Penutupan Pesta Kesenian Bali XL Tahun 2018

Minggu, 22 Juli 2018


Gubernur Bali, Made Mangku Pastika mengungkapkan hal itu saat menutup Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-40 tahun 2018 di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (21/7). “Selain itu PKB telah menjadi wahana komunikasi antar seniman dalam meningkatkan kualitas berkeseniannya,” ujar Mangku Pastika saat menutup acara PKB. Mangku Pastika menilai secara keseluruhan pelaksanaan PKB ke-40 ini telah berjalan dengan baik dan lancar. Kalau pun ada beberapa kekurangan seperti soal parkir, keamanan akan menjadi catatan untuk perbaikan PKB ke depannya. “Terlepas dari kekurangannya, semua acara berjalan lancar. Ini berkat kerjasama semua pihak dan partisipsi aktif  krama Bali,” puji Mangku Pastika.


PKB tidak hanya memberi hiburan semata kepada masyarakat Bali dan wisatawan  baik domestic dan mancanegara. “Tetapi dalam PKB ada upaya merekontruksi seni dan budaya Bali yang telah hilang ataupun mulai langka untuk pelestarian budaya Bali,” apresiasi Mangku Pastika.

Sementara sebelum Gubernur Bali menutup PKB, didahului oleh sambutan Ketua Panitia PKB ke-40 tahun 2018 yakni Kepala Dinas Kebudayaan provinsi Bali, Dewa Putu Beratha. Ada enam point penting yang dilaporkan, diantaranya soal pameran. “Dari hasil transaksi di bagian pameran tercatat nilai transaskinya mencapai Rp 12 Milyar lebih . Sementara untuk kuliner Bali mencapai Rp 2 Milyar nilai transaksi yang terjadi,” jelas Beratha.


Acara penutupan PKB dimeriahkan oleh sendratari kolosal oleh SMKN 3 Sukawati. Sendratari kolosal ini mengangkat lakon ‘Gugurnya Parikesit’. “Lakon ini bukan kami yang memilihnya. Melainkan sudah ditentukan oleh kurator PKB,” tutur I Ketut Darya (55 tahun) selaku dalang dalam lakon ‘Gugurnya Parikesit’. Lakon ini menceritakan tentang matinya Parikesit karena kesalahan yang menghina seorang pertapa. Dalam lakon itu mengisahkan perjalanan hidup dan mati manusia sangat ditentukan oleh takdirnya sendiri. Rsi Srenggi dengan begitu geram marah melihat ayahnya, Begawan Samiti Mono Brata dikalungkan bangkai ular oleh Prabu Parikesit. Maka saat itu juga dia mengutuk Sang Prabu agar dalam waktu tujuh hari tewas dipatuk oleh Ular Naga Taksaka. Dari saat itu, berbagai usaha diupayakan agar sang raja diselamatkan, tetapi berkata lain. Pada hari ke-7 Prabu Parikesit akhirnya terbunuh oleh Ular Naga Taksaka (*).