BALI MANDARA NAWANATYA

Jumat, 05 Februari 2016

TARI NAWANATYA

      Tari Nawanatya merupakan tari yang menggambarkan gerakan - gerakan tari yang ekspresif dalam berbagai ragam pola - pola lantai, yang dikolaborasikan dengan Sembilan rasa dengan Bhawa sebagai katalisatornya, yang mengacu kepada keadaan pikiran dan perasaan. Nawa berarti Sembilan sedangkan Natya berarti presentasi mimik/ekspresi atau seni dramatik. Tema tarian ini diekspresikan lewat ekspresi wajah untuk menyatakan perasaan, sedangkan gerak isyarat tangan menyatakan bahasa tari, untuk menyatakan gagasan tarinya. Tari Nawanatya ini diiringi dengan seperangkat Gambelan Gong Kebyar.

Koreografer dan Desain Kostum : Dr. N.L.N Suasthi Widjaja Bandem
Komposer : Pande Gde Eka Mardiana, S.Sn, M.Sn


Garapan Seni Kolosal Nawanatya

    Garapan kolosal ini merupakan kolaborasi seniman – seniman muda Bali yang akan menampilkan cerminan keterbukaan Bali dan domain yang kaya akan pelbagai seni budaya, baik seni wali, bebali, maupun balih-balihan. Garapan Seni Kolosal Nawanatya ini menampilkan kecemerlangan kesenian Bali dari ranah tradisi sampai kontemporer.

Pentas kolaborasi yang berdurasi satu jam ini dibingkai oleh sekelompok bondres yang mengungkap cerita Nawanatya sedari tahun 1920-an dengan kedatangan para tamu-tamu asing berpengaruh di tanah Bali yang kemudian turut membuka jalan pariwisata budaya dan menduniakan Bali di pentas global.

Dengan setting panggung yang menampilkan instalasi (site specific installation) karya perupa Bali dan proyeksi video mapping yang mencirikan 9 (Sembilan) tari Bali yang telah menjadi pusaka budaya dunia oleh UNESCO, cerita Nawanatya menggebrak dengan pentas Blaganjur Semarandana-Angklung dan tari Baris yang menjadi simbol keberanian dan keterbukaan masyarakat Bali dalam menyambut perkembangan jaman.
Sekelumit adegan pembuka tersebut menjadi jalan bagi pemunculan lokalitas-lokalitas di Bali dengan berbagai ragam kesenian yang unik, baik tradisi maupun modern. Dari pemanggungan tembang sampai musikalisasi puisi, dari tari-tari ceremonial klasik, tari pergaulan, dan tari kontemporer, dari tabuh Kebyar Ding sampai kekinian komposisi tabuh modern, segmen ini juga menjadi pengisahan akan alam lingkungan Bali dan perkembangan historisnya.
Performance art pun bisa dilakukan untuk merespon site specific installation di atas panggung. Tak hanya konsep puri-pura-pasar dan siwam-satyam-sundaram, keragaman dialek bahasa masyarakat Bali pun bisa diungkap dalam narasi Bondres.

Perjalanan kelompok Bondres yang terus berubah peran, baik sebagai tamu atau warga Bali pun berlanjut menuju riuhnya sebuah festival pura. Membicarakan bebantenan dan tingkatan upakara di Bali, pementasan teater kolaboratif ini memuncak dengan pementasan topeng Sidhakarya yang mamuput karya secara simbolik mendoakan perjalanan dan perkembangan seni budaya Bali berjalan baik dan berkelanjutan. (mades)


Ide Cerita : I Made Marlowe Makaradhwaja, B.Bus
Skenario garapan : Dr. N.L.N Suasthi Widjaja Bandem
Koreografer :
1. Prof. Dr. I Made Bandem, MA.
2. Dr. I Nyoman Catra, MA.
3. Dr. N.L.N Suasthi Widjaja Bandem
4. Putu Setyarini, S.Sn
5. Kadek Sidik Aryawan, S.Sn

Komposer :
1. I Komang Sudirga, S.Sn, M.Sn
2. Pande Gde Mardiana, S.Sn, M.Sn
3. I Kadek Wahyudita, S.Sn
Puisi : Dr. A.A. Sagung Mas Ruscitadewi, M.Fil
Instalator/Sets desain : I Made Bakti Wiyasa, S.Sn