Sun. Sep 22nd, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Parade Janger Melampahan, Sanggar Balerung Sari Nertya Wadirta, Desa Peliatan, Kec. Ubud, Duta Kabupaten Gianyar. Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali – Minggu 30 Juni 2019, 19.30 wita.

Janger Peliatan, Hasil Rekonstruksi yang Masih Digandrungi

Minggu malam (30/06) Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar tampak sebagian penikmat Janger Peliatan tak mendapat tempat duduk. Mereka rela berlama-lama berdiri dan hal itu membuktikan bahwa Janger Peliatan masih digandrungi masyarakat.

Sinar lampu hanya terpancar di Panggung Gedung Ksirarnawa beradu dengan kerlap-kerlip kostum para penari janger. Lantunan gending dan tabuh khas Janger Peliatan tampak serasi dan apik. Nyatanya, untuk menghasilkan garapan yang serasi, Janger Peliatan harus melalui proses rekonstruksi sebelum ditampilkan dalam Parade Janger Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41. “Mulanya kami riset terlebih dahulu untuk merekonstruksi janger klasik yang pernah ada di Peliatan sekitar 40 sampai 50-an,” ujar  A.A Gde Oka Dalem selaku koordinator. Mengembalikan keaslian gending janger Peliatan, Gung Oka dan tim menelusuri sumber-sumber dari Balai Desa Peliatan. Dirinya pun mengungkapkan tiga bulan sebelum tampil di PKB, pencarian keaslian gending janger terus diupayakan. Setelah dirasa rampung, waktu latihan yang bersamaan dengan proses rekonstruksi membuat para penari turut mempelajari kesenian janger klasik yang keberadaannya perlu dilestarikan.

Janger Klasik Peliatan yang ditampilkan oleh Sanggar Balerung Sari Nertya Wadirta, Desa Peliatan, Ubug, Gianyar ini pun sukses mendulang apresiasi penuh dari penonton yang ingin menyusuri klasiknya Janger Peliatan era 40-an. Janger melampahan khas Peliatan ini mengalir dengan kisah bertajuk Arjuna Tapa yang mengisyaratkan sebuah pesan bahwa kesabaran adalah kunci dalam meraih keberhasilan. Gending-gendingnya jauh dari kata modern, pola geraknya masih kental dengan tradisi gaya Peliatan. Tapi tua muda tetap terduduk dan berdiri menyaksikkan pementasan hingga usai. Para penari yang berjumlah 24 orang yang terdiri dari 12 orang putri (janger) dan 12 orang putra (kecak) tampak piawai menguasai pakem-pakem janger klasik. “Mereka semua adalah anak-anak muda, untuk menanamkan pakem, keseragaman, dan penjiwaan janger klasik itu perlu proses yang lama,” ujar Gung Oka. Setelah merkonstruksi Janger Klasik Peliatan, Gung Oka dan rekan-rekan Peliatan berharap bahwa masyarakat lebih mencintai Janger Klasik Peliatan, dan Janger-Janger Klasik lainnya yang ada di Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian