Sun. Sep 22nd, 2019

Dinas Kebudayaan

Mari Lestarikan Tradisi & Kebudayaan Bali

Gong Kebyar Wanita Duta Kota DENPASAR. 8 Juli 2019

Penampilan Apik Gong Kebyar Wanita Buleleng dan Denpasar

“Bagus, bagus sekali, apresiasi untuk keduanya karena seni ini sebuah keberlanjutan,” puji Walikota Denpasar, IB. Rai Dharmawijaya Mantra pada penampilan Gong Kebyar Wanita Kabupaten Buleleng dan Kota Denpasar di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya, Denpasar (8/7)

Tak hanya Walikota Denpasar, Rai Mantra yang kagum terhadap aksi para penabuh wanita dari Kabupaten Buleleng dan Denpasar. Antusiasme masyarakat yang membuat Ardha Candra penuh sesak adalah bukti bahwa eksistensi kesenian Bali masih terjaga. Meski dingin menusuk tulang, namun lantunan tabuh dan gerak penari yang gemulai dan dinamis menghangatkan suasana. Sebagai penampil pertama, Kabupaten Buleleng yang diwakili oleh Sanggar Seni Wahana Santhi, Desa Umejero, Kecamatan Busung Biu, Buleleng membuka penampilan dengan Tabuh Kebyar Dang Citta Utsawa yang diciptakan oleh maestro tabuh I Wayan Beratha pada tahun 1983. Buleleng pun melanjutkan penampilan dengan Tari Palawakya yang merupakan sebuah maha karya Wayan Paraupan atau lebih dikenal dengan sapaan Pan Wandres. “Karena mengisahkan seorang pujangga yang sedang membaca ayat-ayat suci di depan tamu kerajaan jadi penari dituntut untuk malawakya juga,” ujar I Gusti Ayu Dwi Parwiti selaku pembina tari dan I Ketut Pany Ryandhi sebagai pembina tabuh.

Garapan pun berlanjut dengan Tabuh Kreasi Merak Angelo karya Gusti Bagus Suarsana, dimana tabuh ini sempat dibawakan tahun 1974 oleh Sekaa Gong Desa Perean Tabanan. Hingga persembahan terakhir yakni Tari Kreasi Merdana Menari yang ditarikan sebagai bentuk penghormatan terhadap Ketut Merdana, dimana geraknya sendiri merupakan reinterpretasi dari gerak Tari Wiranjaya karya Merdana. Denpasar yang hadir sebagai penampil kedua diwakili oleh Sekaa Gong Wanita Puspasari, Banjar Lebah, Desa Sumerta Kaja, Denpasar. Sekaa ini dibentuk tahun 1991 oleh maestro tari Ni Ketut Arini. Mulanya Arini memberdayakan ibu-ibu PKK untuk berlatih bersama di banjar dan akhirnya berlanjut hingga ke generasi muda Banjar Lebah. Penampilan pembuka yakni Tabuh Kebyar Dang Citta Utsawa sebagai materi wajib dibawah binaan I Putu Nuada dan I Putu Yasa. Garapan kedua adalah Tari Baris Kekupu yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler dikembangkan oleh Wayan Rindi, dan Ni Ketut Arini melestarikannya sehingga tarian ini terus berkembang di Banjar Lebah. Selepas tari, Denpasar kembali hadir dengan Tabuh Kreasi Murdaning Sekati buah karya bersama I Komang Astita dan I Wayan Gede Yudana. Hingga puncak garapan Denpasar yakni Tari Kreasi Ngampung. Ngampu adalah istilah yang digunakan masayarakat Banjar Lebah di masa lalu untuk pergi ke sawah. Para penari menampakkan suka cita menanam dan menyemai padi yang merupakan anugerah dari Sang Pencipta (*).

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

EnglishIndonesian